OBJEK, SIFAT,
dan ALIRAN FILSAFAT
Sumber: Terinspirasi Perkuliahan Filsafat Ilmu oleh
Prof. Marsigit, M. A Tanggal 9 Oktober 2014
Objek dalam filsafat adalah yang
meliputi ada dan yang mungkin ada. “Yang mungkin ada” itu berada pada pikiran.
“Yang mungkin ada” akan berubah posisinya setelah berada diluar pikiran,
diucapkan atau ditulis misalnya.
Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai
tak terhingga sifat, dan sifat-sifat ini berdimensi. Salah satu sifat yang ta
terhingga itu adalah sesuatu yang bersifat tetap atau berubah. Sejak awal
manusia memikirkannya maka manusia sudah menemukan, selalu bertanya segala
sesuatu yanga ada dan yang mungkin ada. Sesuatu yang tetap dikemukakan oleh
permendides dengan aliran permendidesian, dan segala sesuatu yang bersifat
berubah dikemukakan oleh Heraklitos dengan aliran heraklitosian. Objek filsafat
beserta sifatnya ini mengalir terus menerus, menembus ruang dan waktu sampai
pada hal yang bersifat kontemporer. Sifat yang dekat dengan sifat tetap adalah
sesuatu yang berada pada impian, sesuatu yang dicita-citakan. Jadi yang tetap
sejalan dengan yang ada didalam pikiran. Yang berubah yang ada di luar pikiran.
Sesuatu yang tetap melahirkan aliran Idealisme dipelopori oleh Plato. Sedangkan
sesuatu yang berubah melahirkan aliran Realisme dipelopori oleh murid dari Plato
yaitu Aristoteles. Jika dilihat dari segi jumlah, jika jumlahnya satu maka
relatif tetap. Biasanya dalam spiritual yang jumlahnya satu mengarah ke Tuhan.
Segala sesuatu yang jumlahnya satu melahirkan paham monoisme. Jika jumlahnya
dua melahirkan paham dualisme. Jika banyak melahirkan paham pluralisme.
Pemikiran – pemikiran filsafat bukan
berarti hanya ada di Yunani kuno. Pemikiran filsafat memang lahir di Yunani
kuno tetapi sebenarnya semua yang berhubungan dengan filsafat juga ada di era
kontemporer. Menurut Emanuel Kant, “Jika engkau ingin melihat dunia, maka
lihatlah pikiranmu karena dunia itu persis dengan apa yang engkau pikirkan”.
Pada abad ke-8, terjadilah masa-masa
kegelapan. Berbicara tidak dibebaskan kecuali atas ijin dari gereja. Salah
ataupun benar, jika gereja yang mengeluarkan akan selalu dianggap benar.
Kemudian muncullah keberanian orang-orang yang beraliran Coppernicusian. Mereka
berani berbicara tentang apa yang diyakininya benar, sampai pada akhirnya
mereka dikejar oleh pihak gereja.
David Hyum mengatakan tidak ada ilmu
tanpa adanya rasio sedangkan menurut Descartes, tiadalah ilmu tanpa adanya
pengalaman. David dan descartes memiliki pandangan yang sangat bertolah
belakang. Kemudian munculah Emmanuel Kant sebagai juru tengah. Emmanuel kant
mengemukakan rasio itu bersifat analitik, sedangkan pengalaman bersifat
sintetik. Analitik itu konsisten sedangkan sintetik bersifat kontradiksi. Rasio
(analitik) bersifat apriori yaitu bisa dipikir meskipun belum bisa terlihat. Pengalaman
(Sintetik) bersifat aposteriori bisa dipikirkan setelah melihat. Menurut
emanuel khant jika digabungkan menjadi analitik aposteriori dan sintetik
apriori. Analitik apriori mungkin terjadi. Sintetik apriori mungkin terjadi
juga sedangkan Analitik aposteriori tidak mungkin terjadi. Ilmu seperti
matematika haruslah bersifat sintetik apriori yaitu membutuhkan logika dan
pengalaman. Jadi perpaduan yang tepat adalah sintetik apriori.