Selasa, 04 November 2014

KONSISTEN?? Think again about it!


Terinspirasi Perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Marsigit, M. A pada hari Kamis tanggal 23 Oktober 2014 Pendidikan Matematika A Pasca Sarjana UNY.


Awalnya (sebelum menjadi mahasiswa s2) saya orang yang berusaha konsisten. Tidak suka dengan orang yang tidak konsisten alias mencla mencle. Suka marah-marah jika ada orang yang tidak konsisten dengan apa yang diucapkannya. Tetapi, setelah kenal dengan seseorang yang menurut saya Unik, Prof. Marsigit, M. A nama beliau dan mengikuti kuliah beliau, saya merubah paradigma tentang kekonsistenan. Dalam kuliah ini beliau menerangkan tentang kekonsistenan yang lebih dalam, tentu menurut filsafat.

Dalam dunia ini sebenarnya tidak ada yang konsisten kecuali Allah. Menurut immanuel Kant (Disampaikan oleh Prof. Marsigit, M. A) Prinsip Dunia ada 2 yaitu prinsip Identitas, dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas itu berarti “aku adalah aku”, “1 adalah 1” dan sebagainya. Sebagai manusia tidak mungkin kita akan mencapai itu. Kenapa? Karena aku yang sekarang berbeda dengan aku 1 menit yang lalu dan 1 menit yang akan datang? Loh kok bisa? Aku yang sekarang tidak berkedip tetapi 1 menit atau beberapa detik yang lalu ataupun beberapa detik yang akan datang aku berkedip. Oleh karena itu tidak akan mungkin aku sama dengan aku. Lalu bagaimana dengan matematika yang menyebutkan bahwa x = x? Yup, akan kita bahas sedikit. Satu sama dengan satu, x = x akan benar saat semua itu masih ada dipikiran, tetapi akan menjadi tidak benar saat sudah berada diluar pikiran. Semua itu akan menjadi sama jika “Diandaikan”. Hal-hal ini dalam matematika digunakan untuk menemukan dan membuktikan teorema-teorema.

Bersyukurlah karena masih berada dalam ketidakkonsistenan. Hal ini berarti kita masih ada didunia, dan masih bisa bersilsafat. Tapi, hal ini bukan berarti ketidakkonsistenan dijadikan ajang untuk melanggar sebuah janji, dan untuk membenarkan yang sudah nyata disharmoni...

Sempurna dalam Ketidaksempurnaan



Terinspirasi Perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Marsigit, M. A pada hari Kamis tanggal 16 Oktober 2014 di Kelas Pendididikan Matematika A Pasca Sarjana UNY

Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Iya memang benar, manusia adalah makhluk yang sempurna, tetapi harus diikuti dalam ketidaksempurnaan. Iya manusia memang sempurna dalam ketidak sempurnaannya. Maksudnya bagaimana? Manusia sempurna karena berbeda dengan makhluk hidup lainnya, disini yang dimaksud adalah hewan dan tumbuhan. Manusia dijadikan makhluk terpilih oleh Allah dengan kesempurnaan organ yang dilengkapi dengan intuisi dan akal. Hewan memang mempunyai intuisi tetapi mereka tidak mempunyai akal untuk berfikir. Untuk berfilsafat....:-) 
 
Lalu bagaimana maksud ketidak sempuranaan manusia? Sebagai contoh, dalam berbicara, manusia tidak bisa berbicara secara paralel, hanya dapat berbicara secara seri. Manusia tidak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya secara bersamaan. Bisa dibayangkan jika apa yang kita pikirkan, yang teramat banyak sekali (saking banyaknya) lalu hal-hal itu dikatakan secara bersamaan. Apakah bisa kita mendengarnya?? Tentu tidak. Kita mengerti sesuatu karena ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia, karena keterbatasan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kan? Karena sebenar-benarnya hidup adalah bersyukur... :-)