Selasa, 07 September 2021

BERFILSAFAT? SELALULAH BERFIKIR... (PART 1)

 Terinspirasi dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 2 September 2021


Dalam menerima segala bentuk tugas/pekerjaan hendaknya kita dimengerti, kemudian dipahami, dan diikhlaskan. Karena segala sesuatu yang diikhlaskan akan dapat menyelesaikan banyak hal, sebaliknya jika tidak ikhlas akan mendatangkan berbagai ketidakbaikan.

Segala sesuatu ada 2 hal yaitu sustainabilitas dan akuntabilitas. Sustainable artinya berkelanjutan, sementara akuntable artinya dapat dipercaya. Untuk bisa sustainable harus akuntable, untuk bisa akuntable harus bisa sustainable. Berlaku hukum biimplikasi, Sesuatu sustainable jika dan hanya jika akuntable. Sebagai contoh, calon mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan jika registrasi dapat dipercaya, pembayaran dapat dipercaya, segala dokumen dapat dipercaya, maka calon mahasiswa bisa terus menjadi mahasiswa. Dalam kehidupan, saat seseorang dapat dipercaya, maka akan terus dipercaya oleh manusia lain, dan tentu dapat diterima keberadaannya oleh sesama. Jika seseorang tidak dapat dipercaya, maka makin lama akan tidak diakui keberadaannya. Kepercayaan atau amanah sangat mahal harganya, oleh karena itu kita harus selalu menjaga kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada kita.

Filsafat adalah olah pikir, artinya saat kita berfilsafat kita sedang memikirkan banyak hal yang mungkin memiliki korelasi. Memikirkan dengan pikiran yang jernih dan meluruhkan segala bentuk ego agar menemukan kebenaran. Filsafat penuh dengan ketidakjelasan? Kenapa? Kembali lagi karena pikiran manusia itu tidak terbatas sementara apa yang mampu kita pikirkan itu terbatas. Saat kita berpikir bagaimana cara mengolah rica-rica ayam? Pikiran kita akan berkembang, kenapa harus A, B, C bahan-bahannya, kemudian bisa berkembang lagi, dimana bisa mendapatkannya, seterusnya. Oleh karena itu kita bisa berfilsafat saat kita menemui ketidakjelasan.

Dalam filsafat, berfikir itu adalah logos sementara tidak berfikir bernama mitos. Sebagai contoh, kita tahu tentang teorema Phytagoras, tetapi kita hanya berlaku sebagai pengguna atau hanya menerima teoremanya, tanpa berfikir bagaimana cara membuktikannya, maka saat itu kita berada kondisi mitos. Saat kita terus, terus, dan terus memikirkan bukti-bukti yang mungkin ditemukan, maka kita akan berada pada kondisi logos. Sebagai manusia, sudah seharusnya kita berfikir dan selalu berfikir menemukan dan membuktikan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.

Selanjutnya, berfilsafat adalah merdeka dalam memikirkan objek filsafat ataupun berpendapat, tetapi ternyata dalam filsafat itu juga besifat terbatas. Dari paling atas adalah spiritual, keilmuan, norma-norma, norma negara, norma masyarakat, sosial masyarakat, Rukun Warga, Rukun Tetangga, Rumah tangga. Tidak semua hal dapat kita pikirkan, karena sebagai manusia tentu kita memiliki ketidaksempurnaan. Pikiran terbuka dengan adanya pertanyaan. Saat kita mulai menanyakan sesuatu, secara otomatis kita akan memikirkan hal tersebut untuk menemukan jawaban dari pertanyaan kita. Oleh karena itu, dalam penelitian akademisi, wajib hukumnya menyertakan pertanyaan penelitian, agar pikiran kita terbuka sebagai akademisi.

Dalam menyampaikan pertanyaan, sebagai manusia kita sadar bahwa tidak semua hal tidak bisa ditanyakan, karena sebagai manusia kita terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga, adab berfilsafat yang pertama adalah berdasar dalam kerangka menuju dan dituju oleh spiritualitas. Dalam berfilsafat kerangka spiritualitas merupakan bagian tertinggi. Dengan berfilsafat seyogyanya menambah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, bukan melemahkan akidah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar