Kamis, 30 September 2021

LURUH EGO 2

 

Terinspirasi dari perkuliahan Filsafat PEP yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 16 September 2021

 

Seperti biasa, awal pembelajaran, kami akan mengadakan Luruh Ego. Pada tanggal 16 september 2021 memasuki Luruh Ego 2. Luruh ego 2 ini membahas tentang komponen-komponen yang ada dan yang mungkin ada. Ada 41 nomor yang menjadi pertanyaan yang diberikan kepada mahasiswa. Tidak jauh beda dengan Luruh Ego 1, hampir seluruh pertanyaan kami jawab dengan SALAH. Saya hanya mampu menjawab benar 3 nomor, itu karena sebelumnya saya membaca note of the day yang ditulis Prof. Marsigit di facebook beliau dan berusaha memahami (sekalipun tidak kunjung paham juga) dari penjelasan-penjelasan Prof. Marsigit yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Memang dalam filsafat ini, kita harus banyak membaca, dan memahami penjelasan-penjelasan Prof. Marsigit dalam setiap pertemuan. Memang tujuan dari kegiatan ini adalah Luruh Ego. Untuk meruntuhkan gunung es ego.

Yang perlu digarisbawahi, istilah-istilah yang disampaikan beliau, bisa jadi definisinya akan berbeda pada pertemuan selanjutnya. Karena seperti yang Prof. Marsigit sampaikan dan juga tertulis di note of the day beliau, bahwa filsafat itu adalah bagaimana penjelasannya. Prof Marsigit mencontohkan ada orang naik kereta dari Yogyakarta menuju Jakarta melewati kebumen, purworejo, cirebon, bekasi, dan Jakarta. Saat sampai Jakarta ada yang bertanya, kereta ini dari mana? Saat ada yang mengatakan dari bekasi, benar. Dari Cirebon, benar. Dari kebumen, juga benar. Sehingga istilah dalam filsafat tidak perlu dihafalkan tetapi bagaimana kita berusaha mensintesiskan bahasa-bahasa filsafat yang analog. Tergantung kapan dan dimana istilah itu disampaikan. Menyesuaikan ruang dan waktu.

Berkaitan dengan komponen mitos yaitu tidak ada thesis, tidak ada antithesis dan tidak ada sintesis. Saat kita berbicara tidak ada, maka tidak ada itu ada dalam pikiran kita. Saat kita berbicara kosong maka kosong itu ada dalam pikiran kita. Apa yang mampu kita ucapkan maupun pikirkan sebenarnya ada dalam pikiran kita. Saat kita sudah tidak lagi bertanya maupun berusaha menjadi jawaban dari pertanyaan maka kita sudah masuk ke dalam Mitos. Agar kita terhindar dari Mitos, maka kita harus masuk ke dalam Logos, yaitu bertanya dan berusaha mencari jawaban dari pertanyaan itu.

Berkaitan dengan tidur, tidur itu tidak berarti matinya pikiran. Matinya pikiran sebenar-benarnya kita sudah masuk ke dalam mitos. Matinya pikiran adalah saat kita sudah tidak lagi berusaha berfikir terhadap sesuatu. Tidur itu dalam filsafat hilangnya dunia, karena kita tidak sadar. Jika dikaitkan dengan peraturan, peraturan dikenakan kepada orang-orang yang sadar. Sebagai manusia, kita harus sopan dan santun pada ruang dan waktu. Dikaitkan dengan berdoa, sebaiknya kita mematikan pikiran kita, artinya “meletakkan” dunia dan fokus (khusu’) berdoa kepada Tuhan YME. Karena Tuhan itu ada dalam hati. Yang harus dipegang bahwa, agama, spiritual itu adalah Logos, suatu kebenaran.

Selanjutnya, berkaitan dengan komponen “tidak berakhir” yaitu infinite regres dan konsep, hal ini adalah bagian dari metafisik. Metafisik meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Untuk itu kita harus selalu berfikir. Bagi orang yang berfikir, sadar maupun tidak sadar, sebenarnya sudah masuk ke dalam metafisik. Immanuel Kant membagi 2 dunia ini yaitu fenomena dan noumena. Fenomena adalah sesuatu yang bisa kita pikirkan dan noumena adalah yang tidak bisa kita pikirkan, kuasa Tuhan contohnya.

Berkaitan dengan intuisi, mengerti sebelum permulaan disebut sebagai intuisi. Misal kita mencintai anak, suami/istri atau orang tua, tetapi kita mengetahui apa itu arti cinta, kita tidak tahu mulai kapan kita mencintai mereka, inilah yang disebut sebagai intuisi atau pengetahuan intuitif. Pengetahuan intuitif itu tidak dimulai, tidak mengetahui kapan mulainya. Sehingga intuisi itu berdasarkan pengalaman. Suatu pengetahuan berdasarkan pengalaman yang tidak kita ketahui kapan mulainya. Sebanyak 95% hidup kita adalah intuitif. Tidur, makan, ngantuk, itu pengertian intuitif, tidak perlu didefinisikan dan menjadi common sense (pemahaman umum).

 

Agar selalu pada kebaikan, kita harus cerdas ruang dan waktu. Sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

Rabu, 15 September 2021

NGURI-URI KABUDAYAN JAWI PART 3 (Final)

 Berdasar cerita Ketoprak UNY dalam rangka dies-natalis ke 54 berjudul “REMBULAN KEKALANG”

 

Pangeran Haryo Timur mendatangi Roro Mangli untuk membunuhnya. Tetapi Roro Mangli bersikeras bahawa kesalahan tidak hanya darinya ataupun dari ayahnya, tetapi juga dari kesalahan Pangeran Haryo Timur. Sehingga Pangeran Haryo Timur tidak jadi membunuh Roro Mangli, yang sudah menjadi istrinya. Pangeran Haryo Timur memutuskan memberontak Kerajaan Mataram.

 

Kemudian Pangeran Sepuh Purboyo menasehati Pangeran Haryo Timur agar ingat dan tidak menyesal dibelakang, dengan kata-kata “Sak bejo bejane wong lali, isih bejo wong eling lan waspada”, artinya (menurut saya secara pribadi) bahwa seberungtung-beruntungnya orang lupa (tidak sadar dengan keburukan yang dia kerjakan), lebih beruntung orang yang ingat dan waspada (selalu berhati-hati agar selalu bertindak kebaikan). Dengan tujuan agar Pangeran Haryo Timur kembali kepada Kerajaan Mataram,Tetapi Pangeran Haryo Timur menolak dan tetap ingin memberontak Kerajaan Mataram.

 

Roro Mangli merasa sedih dan putus asa karena gagal menjadi permaisuri kerajaan Mataram. Kemudian memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri karena gagal mewujudkan obesinya, didepan Pangeran Haryo Timur. Ceritapun berakhir.

 

Pesan Moral yang dapat diambil adalah, bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu. Dan bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. Selalulah berpikir jernih dalam bertindak dan tidak terobsesi dengan sesuatu yang bukan merupakan hak kita. Setiap tindakan harus dipikirkan dengan weningin penggalih (kejernihan hati dan pikiran) agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.

 

Pagelaran Ketoprak UNY dengan judul “Rembulan Kekalang” ini sungguh memiliki nilai budaya maupun nilai kehidupan yang luar biasa. Semoga kita bisa mengambil nilai positif dari pagelaran ini.

Jumat, 10 September 2021

NGURI-URI KABUDAYAN JAWI PART 2

Berdasar cerita Ketoprak UNY dalam rangka dies-natalis ke 54 berjudul “REMBULAN KEKALANG”

 

Pangeran Haryo Timur, adik dari Pangeran Hadi Mataram, jatuh hati pada pandangan pertama dengan Roro Mangli, putri dari Tumenggung Pasingsingan yang cantik rupawan. Pangeran Haryo Timur lantas melamar Roro Mangli. Dengan berbagai cara, Pangeran Haryo Timur menarik hati Roro Mangli. Akan tetapi Roro Mangli belum bisa membuka hatinya. Lantar Pangeran Haryo Timur mendatangai Tumenggung Pasingsingan untuk melamar Roro Mangli karena sudah terlanjur sangat mencintai Roro Mangli. Roro Mangli akan menerima lamaran Pangeran Haryo Timur tetapi dengan syarat Pangeran Haryo Timur harus menjadi Raja Mataram, padahal saat ini kakak Pangeran Haryo Timur, Pangeran Hadi Mataram yang menduduki singgasana Kerajaan Mataram.

 

Pangeran Haryo Timur sontak terkejut mendengar permintaan tidak masuk akal itu, karena pasti akan memecah belah persaudaraan antara Pangeran Hadi Mataram dengan Pangeran Haryo Timur. Artinya bahwa Pangeran Haryo Timur harus membunuh Pangeran Hadi Mataram agar singgasana turun ke Pangeran Haryo Timur. Pangeran Haryo Timur menyepakati untuk bekerjasama melengserkan tahta Pangeran Hadi Mataram. Jika tidak sanggup, Tumenggung Pasingsingan yang berjanji akan mencelakai Pangeran Hadi Mataram, demi ambisi Roro Mangli yang ingin menjadi permaisuri kerajaan mataram.

 

Yu Genuk melaporkan kepada suaminya terkait permintaan Roro Mangli dan niat Tumenggung Pasingsingan. Suami Yu Genuk pun menemui Pangeran Sepuh Perboyo dan melaporkan apa yang didengar dari istrinya tersebut. Malam hari, Tumenggung Pasingsingan, memasuki keraton dan berniat melancarkan aksinya membunuh Pangeran Hadi Mataram. Namun sebelum berhasil membunuh Pangeran Hadi Mataram, tetapi aksinya diketahui oleh Pangeran Sepuh Purboyo. Tumenggung Pasingsingan tidak mengaku akan berbuat jahat, tetapi Pangeran Sepuh Purboyo sudah mengetahui apa niat dari Tumenggung Pasingsingan. Setelah melawan prajurit dan kepala prajurit Kerajaan Mataram, Tumenggung Pasingsingan pun berhasil ditangkap, kemudian diadili. Tumenggung Pasingsingan dihukum mati karena memiliki niat yang sangat jahat.

 

Pangeran Haryo Timur dikonfirmasi terkait kerjasama jahat antara dirinya dengan Tumenggung Pasingsingan. Pangeran Haryo Timur pun meminta maaf kepada kakaknya, Pangeran Hadi Mataram karena telah mengkhianati kakaknya. Pangeran Hadi Mataram meminta nyawa Roro Mangli kepada Pangeran Haryo Timur. Lantas Pangeran Haryo Timur mendatangi Roro Mangli untuk membunuh Roro Mangli karena sudah membujuk Pangeran Haryo Timur untuk memberontak Pangeran Hadi Mataram.

Rabu, 08 September 2021

BERFILSAFAT? SELALULAH BERFIKIR... (PART 2)

 Terinspirasi pada perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 2 September 2021


Berfilsafat adalah merubah paradigma. Semakin tinggi keilmuaan seseorang maka semakin tinggi pula cara berfikir seseorang. Tetapi dengan filsafat, saat semakin kita mengetahui sesuatu, maka kita semakin sadar bahawa kita sebenarnya tidak mengetahui apa-apa. Bahwa manusia tidak memiliki hak untuk meninggikan ketahuannya, karena sebenarnya manusia tidaklah memiliki kesempurnaan.

Dimanapun, kita sebagai manusia memiliki batasan-batasan. Sebaik-baiknya batasan adalah sopan santun. Sopan dan santun dalam berbicara maupun bertindak. Dalam agama, sosial, maupun keluarga pasti selalu diajarkan sopan santun. Sopan dan santun dalam berbicara, bersikap, dan bertindak. Dalam dunia nyata maupun media sosial. Menggunakan media sosial dengan bijak, dengan sopan, dengan santun, sehingga memberikan manfaat untuk sesama.

Setinggi-tingginya ilmu adalah sopan santun. Tetapi ternyata, sopan santun ini dapat dikalahkan oleh niat. Kita bisa saja bersikap sopan dan santun, tetapi saat niat kita tidak baik maka kita akan berpikir untuk melakukan hal tidak baik atau dalam kata lain, memiliki motif yang tidak baik. Pikiran-pikiran tidak baik ini akan membentuk sesuatu yang bernama politik. Motif ini bisa mengalahkan segala ilmu yang tinggi sekalipun.

Adab kedua dalam berfilsafat adalah Komprehensif, secara menyeluruh dan tuntas, tidak bisa hanya dipelajari sepenggal, tidak bisa salah ruang dan waktu. Artinya belajar filsafat haruslah secara menyeluruh dengan tujuan yang baik, mengolah pola pikir sehingga mampu meningkatkan iman dan takwa, bukan untuk terlihat hebat diantara manusia lain. Filsafat juga tidak digunakan untuk mempengaruhi ataupun memaksa orang lain, filsafat juga hendaknya dapat disampaikan agar dipahami orang awam dengan bahasa yang mudah, yang mudah dicerna. Ilmu sesulit apapun seyogyanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam sehingga dapat semakin banyak ilmu yang kita estafetkan. Guru yang hebat adalah guru yang mampun membuat materi pelajaran yang sulit menjadi hal yang sederhana.

Objek metafisik dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Objek material (isi) dan objek formal (bentuk). Objek terkecil apapun akan dapat dikategorikan menjadi objek isi dan bentuk. Alat berfilsafat adalah berbahasa secara analog, dapat dianalogikan. Misalkan hati analog dengan doa. Inilah tantangan dalam belajar filsafat karena sangat bersifat konotatif. Belajar filsafat harus mampu menganalogikan dua hal.

Di alam dunia, semua bersifat relatif, sesuai sudut pandang. Bisa berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Absolut atau kekuasaan mutlak hanyalah milik Tuhan. Saat kita mengatakan besar, ternyata orang lain mengaggapnya kecil. Saat kita merasa sulit memahami materi perkuliahan, ternyata ada diantara teman kita merasa sangat mudah. Karena bersifat relatif, hidup di dunia itu bersifat kontradiktif, saling bertentangan.

Selanjutnya, dalam filsafat, metode yang digunakan adalah intensif (sedalam-dalamnya) dan esktensif (seluas-seluasnya). Bagaimana kita menganalisis suatu objek secara dalam dan luas. Tidak hanya dibagian luarnya saja, tetapi mendalam sampai ke dalam akar-akarnya, agar mendapatkan pengetahuan yang luas.

Selasa, 07 September 2021

BERFILSAFAT? SELALULAH BERFIKIR... (PART 1)

 Terinspirasi dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 2 September 2021


Dalam menerima segala bentuk tugas/pekerjaan hendaknya kita dimengerti, kemudian dipahami, dan diikhlaskan. Karena segala sesuatu yang diikhlaskan akan dapat menyelesaikan banyak hal, sebaliknya jika tidak ikhlas akan mendatangkan berbagai ketidakbaikan.

Segala sesuatu ada 2 hal yaitu sustainabilitas dan akuntabilitas. Sustainable artinya berkelanjutan, sementara akuntable artinya dapat dipercaya. Untuk bisa sustainable harus akuntable, untuk bisa akuntable harus bisa sustainable. Berlaku hukum biimplikasi, Sesuatu sustainable jika dan hanya jika akuntable. Sebagai contoh, calon mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan jika registrasi dapat dipercaya, pembayaran dapat dipercaya, segala dokumen dapat dipercaya, maka calon mahasiswa bisa terus menjadi mahasiswa. Dalam kehidupan, saat seseorang dapat dipercaya, maka akan terus dipercaya oleh manusia lain, dan tentu dapat diterima keberadaannya oleh sesama. Jika seseorang tidak dapat dipercaya, maka makin lama akan tidak diakui keberadaannya. Kepercayaan atau amanah sangat mahal harganya, oleh karena itu kita harus selalu menjaga kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada kita.

Filsafat adalah olah pikir, artinya saat kita berfilsafat kita sedang memikirkan banyak hal yang mungkin memiliki korelasi. Memikirkan dengan pikiran yang jernih dan meluruhkan segala bentuk ego agar menemukan kebenaran. Filsafat penuh dengan ketidakjelasan? Kenapa? Kembali lagi karena pikiran manusia itu tidak terbatas sementara apa yang mampu kita pikirkan itu terbatas. Saat kita berpikir bagaimana cara mengolah rica-rica ayam? Pikiran kita akan berkembang, kenapa harus A, B, C bahan-bahannya, kemudian bisa berkembang lagi, dimana bisa mendapatkannya, seterusnya. Oleh karena itu kita bisa berfilsafat saat kita menemui ketidakjelasan.

Dalam filsafat, berfikir itu adalah logos sementara tidak berfikir bernama mitos. Sebagai contoh, kita tahu tentang teorema Phytagoras, tetapi kita hanya berlaku sebagai pengguna atau hanya menerima teoremanya, tanpa berfikir bagaimana cara membuktikannya, maka saat itu kita berada kondisi mitos. Saat kita terus, terus, dan terus memikirkan bukti-bukti yang mungkin ditemukan, maka kita akan berada pada kondisi logos. Sebagai manusia, sudah seharusnya kita berfikir dan selalu berfikir menemukan dan membuktikan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.

Selanjutnya, berfilsafat adalah merdeka dalam memikirkan objek filsafat ataupun berpendapat, tetapi ternyata dalam filsafat itu juga besifat terbatas. Dari paling atas adalah spiritual, keilmuan, norma-norma, norma negara, norma masyarakat, sosial masyarakat, Rukun Warga, Rukun Tetangga, Rumah tangga. Tidak semua hal dapat kita pikirkan, karena sebagai manusia tentu kita memiliki ketidaksempurnaan. Pikiran terbuka dengan adanya pertanyaan. Saat kita mulai menanyakan sesuatu, secara otomatis kita akan memikirkan hal tersebut untuk menemukan jawaban dari pertanyaan kita. Oleh karena itu, dalam penelitian akademisi, wajib hukumnya menyertakan pertanyaan penelitian, agar pikiran kita terbuka sebagai akademisi.

Dalam menyampaikan pertanyaan, sebagai manusia kita sadar bahwa tidak semua hal tidak bisa ditanyakan, karena sebagai manusia kita terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga, adab berfilsafat yang pertama adalah berdasar dalam kerangka menuju dan dituju oleh spiritualitas. Dalam berfilsafat kerangka spiritualitas merupakan bagian tertinggi. Dengan berfilsafat seyogyanya menambah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, bukan melemahkan akidah.

Senin, 06 September 2021

METAFISIK KEHIDUPAN

 Terinspirasi perkuliahan Filsafat yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A

Link: https://www.youtube.com/watch?v=8t3lalvQbiQ


        Hidup manusia adalah metafisik yaitu setelah yang ada masih yang ada lagi. Sebelum yang ada, masih yang ada lagi. Tidak akan pernah selesai. Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan. Manusia diciptakan menjadi makhluk yang sempurna diantara makhluk yang lain, tetapi juga memiliki ketidaksempurnaan. Sebagai contoh, saat manusia sempurna dalam pendengaran, maka manusia dapat mendengar semua suara di dunia. Tentu sebagai manusia, tidak akan sanggup hidup dengan kondisi demikian. Oleh karena itu, manusia tidak sempurna, agar manusia bisa hidup. Saat manusia diberikan satu saja bagian kesempurnaan, maka manusia tidak akan sanggup hidup.

Awal dari segala macam kegiatan adalah FATAL dan VITAL. Fatal artinya terpilih, merupakan takdir, manusia tidak memiliki kuasa untuk intervensi. Sedangkan VITAL adalah memilih, manusia memiliki kuasa dalam bentuk ikhtiar. Fatal itu berkaitan dengan sesuatu yang tetap sedangkan vital berkaitan dengan sesuatu yang berubah. Fatal itu berhubungan dengan kuasa tuhan melalui bentuk spiritual, sedangkan vital berhubungan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya atau materialism.

Tuhan mempunyai sifat apriori yang artinya paham sebelum melihat, tentu hal ini tidak dimiliki oleh manusia. Manusia memiliki sifat A posteriori yang artinya paham setelah melihat. Tuhan mengetahui apa yang belum manusia ketahui. Itulah salah satu perbedaan antara manusia dengan Tuhan.

        Orang yang cerdas secara filsafat adalah yang paham ruang dan waktu. Saat kita ke toko sepatu yang dibahas tentang sepatu, saat kita ke toko sayur yang dibahas tentang sayur. Mampu membawa diri dimanapun dia berada. Pada dasarnya sifat manusia dibagi menjadi empat yaitu: 1. Sifat dibalik sifat, 2. Sifat mendahului sifat, 3. Sifat mengikuti sifat, 4. Sifat mempunyai sifat. Dan sebaik-baiknya sifat manusia adalah sifat mengikuti sifat.

            Permenides seorang filsuf yang berpendapat bahwa segala sesuatu itu bersifat tetap, sedangkan Herakleitos berpendapat bahwa segala sesuatu itu berubah. Jika manusia tidak berfilsafat maka kedua filsuf ini bisa saja berperang argumen. Dengan berfilsafat dapat diklasifikasikan bahwa dalam diri manusia itu ada yang tetap dan ada yang berubah. Takdir manusia bersifat tetap. Misal nama orang tua saya adalah Harmono dan Muryati, maka hal itu tetap, sampai kapanpun orang tua saya adalah harmono dan muryati.

        Segala yang tetap hukumnya A=A atau identitas, yang berubah hukumnya A≠A atau kontradikasi. Hidup didunia bersifat kontradiksi karena terikat ruang dan waktu, sedangkan yang bersifat sama adalah di pikiran.

Descartes, salah satu filsuf Rasionalism dan Scepticism tidak mempercayai Tuhan untuk mencari Tuhan. Berdasarkan pendapat Descartes, sebenar-benarnya ilmu haruslah berdasar pada rasio. Sementara D. Hume berpendapat bahwa sebenar-benarnya ilmu harus berdasar pada pengalaman. Seiring bermunculannya perdebatan antara penganut Rasionalism dengan Empiricism, muncullah seorang tokoh yang bernama Immanuel Kant. Masa ini adalah awal mula dari jaman modern.

Kemudian muncullah tokoh yang bernama Auguste Comte (1798-1857). Comte berpendapat bahwa agama tidak dapat digunakan untuk membangun dunia karena tidak logis dalam buku Positivism. Dalam membangun dunia, spiritualitas adalah komponen paling rendah, kemudian metafisik, dan yang paling atas adalah positif. Sehingga komponen agama hanya sedikit dalam membangun dunia, menurut Comte.

Saat ini struktur dunia (Kontemporer) tersusun dari Archaic (manusia batu), tribal (pedalaman), traditional, feudal, modern, post modern, dan power now. Dalam perjalanannya, sampai saat ini, NKRI dan pancasila digempur paham PKI maupun paham khilafah. Kondisi Indonesia saat ini dalam tahap menuju ke dalam masa kontemporer, meskipun bagian dunia lain sudah akan beranjak ke masa yang lebih tinggi lagi.

Minggu, 05 September 2021

NGURI-URI KABUDAYAN JAWI PART 1

 Berdasar cerita Ketoprak UNY dalam rangka dies-natalis ke 54 berjudul “REMBULAN KEKALANG”

 

Dalam rangka pelestarian budaya, UNY hadir menggelar pementasan ketoprak yang berjudul Rembulan Kekalang. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan dies natalis UNY ke 54. Tidak tanggung-tanggung, acara ini dimeriahkan oleh Rektor UNY masa bhakti 2017-2021, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, dan banyak guru besar dari UNY, Prof. Dr. Marsigit, M.A salah satunya. Dalam Ketoprak UNY yang berjudul Rembulan Kekalang ini, terlihat bahwa rektor, guru besar, maupun dosen-dosen sangat piawai memerankan peran masing-masing, dan terlihat sangat menguasai bahasa jawa.


Di awal ketoprak, Pangeran Sepuh Purboyo mengenalkan Patih Singoranu sebagai patih yang selalu setia dan bisa diandalkan menyelesaikan masalah. Pangeran Purbaya beranggapan jika saya ada dua orang yang seperti Patih Singoranu maka akan semakin menambah kewibawaan Pangeran Sepuh Purboyo memimpin Kerajaan Mataram. Mataram akan menjadi kerajaan yang kuat dan jaya.


Pangeran Sepuh Purboyo ingin menurunkan kekuasaan dikarenakan sudah merasa tua. Setelah berbagai diskusi antara Pangeran Sepuh Purboyo, Patih Singoranu, dan Tumenggung Pasinggingan, diputuskan bahwa Pangeran Hadi Mataram yang diperankan oleh Rektor UNY periode 2017-2021, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd diangkat menjadi Raja Mataram menggantikan Pangeran Sepuh Purboyo. Meskipun Pangeran Hadi Mataram adalah anak dari adik Pangeran Sepuh Purboyo, Pangeran Jolang tetapi Pangeran Hadi Mataram  dipilih karena  memiliki jiwa satria, sangat dekat dengan rakyat kecil di pedesaan dan membantu siapapun yang membutuhkan. Bersamaan dengan kesanggupan Pangeran Hadi Mataram menjadi Raja Mataram, Patih Singoranu juga mengundurkan diri menjadi Patih di kerajaan Mataram.


Diskusi berlanjut memilih jabatan Patih. Tumenggung Pesinggingan secara mengejutkan menawarkan diri menjadi patih dengan kesombongannya. Pangeran Hadi Mataram tidak menyukai hal itu kemudian meminta ijin untuk memilih patih karena patih yang akan menemaninya bertukar pikiran selama menjadi Raja Mataram. Pangeran Hadi Mataram memilih Tumenggung Sindurejo untuk menjadi Patih, dan Tumenggung Pesinggingan pun murka.