Terinspirasi dari perkuliahan Filsafat PEP yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 16 September 2021
Seperti biasa, awal pembelajaran, kami akan mengadakan
Luruh Ego. Pada tanggal 16 september 2021 memasuki Luruh Ego 2. Luruh ego 2 ini
membahas tentang komponen-komponen yang ada dan yang mungkin ada. Ada 41 nomor
yang menjadi pertanyaan yang diberikan kepada mahasiswa. Tidak jauh beda dengan
Luruh Ego 1, hampir seluruh pertanyaan kami jawab dengan SALAH. Saya hanya
mampu menjawab benar 3 nomor, itu karena sebelumnya saya membaca note of the
day yang ditulis Prof. Marsigit di facebook beliau dan berusaha memahami
(sekalipun tidak kunjung paham juga) dari penjelasan-penjelasan Prof. Marsigit
yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Memang dalam filsafat ini, kita
harus banyak membaca, dan memahami penjelasan-penjelasan Prof. Marsigit dalam
setiap pertemuan. Memang tujuan dari kegiatan ini adalah Luruh Ego. Untuk meruntuhkan
gunung es ego.
Yang perlu digarisbawahi, istilah-istilah yang
disampaikan beliau, bisa jadi definisinya akan berbeda pada pertemuan
selanjutnya. Karena seperti yang Prof. Marsigit sampaikan dan juga tertulis di
note of the day beliau, bahwa filsafat itu adalah bagaimana penjelasannya. Prof
Marsigit mencontohkan ada orang naik kereta dari Yogyakarta menuju Jakarta
melewati kebumen, purworejo, cirebon, bekasi, dan Jakarta. Saat sampai Jakarta
ada yang bertanya, kereta ini dari mana? Saat ada yang mengatakan dari bekasi,
benar. Dari Cirebon, benar. Dari kebumen, juga benar. Sehingga istilah dalam
filsafat tidak perlu dihafalkan tetapi bagaimana kita berusaha mensintesiskan
bahasa-bahasa filsafat yang analog. Tergantung kapan dan dimana istilah itu
disampaikan. Menyesuaikan ruang dan waktu.
Berkaitan dengan komponen mitos yaitu tidak ada
thesis, tidak ada antithesis dan tidak ada sintesis. Saat kita berbicara tidak
ada, maka tidak ada itu ada dalam pikiran kita. Saat kita berbicara kosong maka
kosong itu ada dalam pikiran kita. Apa yang mampu kita ucapkan maupun pikirkan
sebenarnya ada dalam pikiran kita. Saat kita sudah tidak lagi bertanya maupun
berusaha menjadi jawaban dari pertanyaan maka kita sudah masuk ke dalam Mitos.
Agar kita terhindar dari Mitos, maka kita harus masuk ke dalam Logos, yaitu
bertanya dan berusaha mencari jawaban dari pertanyaan itu.
Berkaitan dengan tidur, tidur itu tidak berarti
matinya pikiran. Matinya pikiran sebenar-benarnya kita sudah masuk ke dalam
mitos. Matinya pikiran adalah saat kita sudah tidak lagi berusaha berfikir
terhadap sesuatu. Tidur itu dalam filsafat hilangnya dunia, karena kita tidak
sadar. Jika dikaitkan dengan peraturan, peraturan dikenakan kepada orang-orang
yang sadar. Sebagai manusia, kita harus sopan dan santun pada ruang dan waktu.
Dikaitkan dengan berdoa, sebaiknya kita mematikan pikiran kita, artinya “meletakkan”
dunia dan fokus (khusu’) berdoa kepada Tuhan YME. Karena Tuhan itu ada dalam
hati. Yang harus dipegang bahwa, agama, spiritual itu adalah Logos, suatu
kebenaran.
Selanjutnya, berkaitan dengan komponen “tidak berakhir”
yaitu infinite regres dan konsep, hal ini adalah bagian dari metafisik.
Metafisik meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Untuk itu kita harus selalu
berfikir. Bagi orang yang berfikir, sadar maupun tidak sadar, sebenarnya sudah
masuk ke dalam metafisik. Immanuel Kant membagi 2 dunia ini yaitu fenomena dan
noumena. Fenomena adalah sesuatu yang bisa kita pikirkan dan noumena adalah
yang tidak bisa kita pikirkan, kuasa Tuhan contohnya.
Berkaitan dengan intuisi, mengerti sebelum permulaan
disebut sebagai intuisi. Misal kita mencintai anak, suami/istri atau orang tua,
tetapi kita mengetahui apa itu arti cinta, kita tidak tahu mulai kapan kita
mencintai mereka, inilah yang disebut sebagai intuisi atau pengetahuan
intuitif. Pengetahuan intuitif itu tidak dimulai, tidak mengetahui kapan
mulainya. Sehingga intuisi itu berdasarkan pengalaman. Suatu pengetahuan
berdasarkan pengalaman yang tidak kita ketahui kapan mulainya. Sebanyak 95%
hidup kita adalah intuitif. Tidur, makan, ngantuk, itu pengertian intuitif,
tidak perlu didefinisikan dan menjadi common sense (pemahaman umum).
Agar selalu
pada kebaikan, kita harus cerdas ruang dan waktu. Sopan dan santun terhadap
ruang dan waktu.