Rabu, 22 Desember 2021

SOLUSI PEMIKIRAN ANALITIC A PRIORI DAN SINTETIC A POSTERIORI

 


Sebuah Resume dari Buku The Critique of Pure Reason oleh Immanuel Kant.

Immanuel Kant merupakan penengah antara aliran filsafat rasionalisme dan empirisme. Lebih lanjut Kant menjadi penengah antara pandangan pengetahuan apriori dan pengetahuan posteriori, antara analitik dan sintetik. Kant memberi nama filsafatnya sebagai transcendental philosophy, yaitu filsafat transcendental. Filsafat transendental adalah suatu pemikiran yang ingin membuktikan bahwa ada pengetahuan yang tidak berdasarkan pengalaman yaitu pengetahuan yang disebut a priori. Filsafat transendental juga menjelaskan bagaimana pengetahuan yang a priori ini membantu pengalaman. Pengalaman merupakan hasil awal dari akal. Pengalaman tidak berlaku umum, karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda, padahal akal akan berusaha mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum sekaligus memiliki sifat absolut, tidak berdasar pada pengalaman. Hal inilah yang disebut apriori.

Kant menjelaskan bahwa pengetahuan kita merupakan sintesis antara unsur-unsur apriori (tanpa pengalaman) dan unsur a posteriori (berdasarkan pengalaman). Unsur a priori yaitu ruang dan waktu, akal, hasil sintesis.

 

RUANG DAN WAKTU

Ruang dan waktu berkaitan dengan pengetahuan fisik. Ruang dan waktu membentuk suatu data empiris menjadi kenyataan yang dapat diketahui. Menurut Kant kenyataan sejati tak dapat diketahui karena dibatasi ruang dan waktu. Objek-objek yang kita ketahui secara empiris bukanlah sebenarnya objek. Objek dalam filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang selama ini kita ketahui “1+1” adalah merupakan gejala. Gejala itu terlihat karena adanya sintesis antara objek pengetahuan dan subjek pengetahun sendiri.

 

ANALISIS

Analisis berkaitan dengan keputusan-keputusan. Misalnya “segiempat memiliki empat sudut”. Keputusan ini disebut sebagai analitis a priori, karena predikat kalimat (memiliki empat sudut) diperoleh dengan menganalisis subjek yaitu segiempat dan diperoleh tanpa pengalaman atau biasa kita sebut sebagai intuisi.

Contoh lain adalah “api itu panas” atau keputusan sintesis a posteriori. Predikat yaitu panas diperoleh dari pengalaman dengan subyek api, sehingga bersifat sintesis. Kant mengkritisi keputusan sintesis a priori yaitu predikat tidak diperoleh dari pengalaman, tidak merupakan analisis atas subyek, tetapi bersifat sintesis.

 

HASIL SINTESIS

Hasil sintesis berkaitan dengan argumen. Pada hasil sintesis, unsur a posteriori tidak dapat diterima secara langsung, tetapi terlebih dahulu melalui tahap analisis. Unsur a priori adalah ide-ide yang menjadi suatu argumen.

 

TRANSCENDENTAL AESTHETIC

Transcendental aesthetics berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memperoleh pengalaman melalui intuisi. Intuisi sendiri adalah pengalaman yang tidak kita ketahui kapan maupun dimana awal kita mendapatkannya. Misalnya berkaitan dengan cinta dan sayang kepada orang tua. Kita menyadari bahwa kita sangat mencintai dan menyayangi orang tua, tetapi sejak kapan kita menyayangi orangtua tidak pernah kita ketahui awal mulanya. Berdasarkan pengalaman kita diperlakukan baik, disayang oleh orang tua, mengakibatkan kita juga menyayangi mereka. Dalam transcendental aesthetic tidak terlepas dari ruang dan waktu. Ruang tidak berhubungan dengan benda atau properti. Ruang tidak lain hanyalah bentuk dari segala penampakan akal luar, yaitu, kondisi subjektif dari kepekaan, di mana satu-satunya intuisi luar yang mungkin bagi kita. Sementara waktu merupakan intuisi apriori. Waktu bukanlah suatu konsep. Ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan secara filsafat. Saat kita menulis A=A itu adalah kesalahan, yang benar adalah A tidak sama dengan A. Tetapi A=A akan benar saat dia berada pada pikiran, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam transcendental aesthetic, cara untuk mensintesiskan apriori dari yang mungkin adalah menggunakan intuisi apriori serta mengintegrasikannya dengan ruang dan waktu. Menurut Kant, tidak semua pengetahuan apriori disebut transcendental.

 

 

TRANSCENDENTAL LOGIC

Logika Secara umum, mencakup dua sumber pengetahuan mendasar yaitu:

1.    Sensibilitas adalah  kapasitas untuk menerima representasi. Sensibilitas terdiri dari Ilmu estetika dan Bagaimana objek diberikan kepada kita.

2.    Pemahaman adalah kekuatan mengetahui suatu objek melalui representasi. Pemahaman terdiri dari Ilmu Logika dan Bagaimana suatu objek dipikirkan.

Kant mencirikan logika transendental sebagai bukan abstrak dari seluruh isi pengetahuan. Lebih lanjut, Kant mengklaim tidak setiap jenis pengetahuan apriori harus disebut transendental.

 

Oleh karena itu Kant berusahan menkombinasikan antara analitik apriori yang bersifat rasional dengan sintesis a posteriori yang berdasarkan pengalaman menjadi sintesis a priori yang menjadi dasar suatu ilmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar