Immanuel
Kant merupakan penengah antara aliran filsafat rasionalisme dan empirisme.
Lebih lanjut Kant menjadi penengah antara pandangan pengetahuan apriori dan
pengetahuan posteriori, antara analitik dan sintetik. Kant memberi nama
filsafatnya sebagai transcendental philosophy, yaitu filsafat transcendental.
Filsafat transendental adalah suatu pemikiran yang ingin membuktikan bahwa ada
pengetahuan yang tidak berdasarkan pengalaman yaitu pengetahuan yang disebut a
priori. Filsafat transendental juga menjelaskan bagaimana pengetahuan yang a
priori ini membantu pengalaman. Pengalaman merupakan hasil awal dari akal.
Pengalaman tidak berlaku umum, karena setiap orang memiliki pengalaman yang
berbeda, padahal akal akan berusaha mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum
sekaligus memiliki sifat absolut, tidak berdasar pada pengalaman. Hal inilah
yang disebut apriori.
Kant
menjelaskan bahwa pengetahuan kita merupakan sintesis antara unsur-unsur
apriori (tanpa pengalaman) dan unsur a posteriori (berdasarkan pengalaman).
Unsur a priori yaitu ruang dan waktu, akal, hasil sintesis.
RUANG DAN WAKTU
Ruang
dan waktu berkaitan dengan pengetahuan fisik. Ruang dan waktu membentuk suatu
data empiris menjadi kenyataan yang dapat diketahui. Menurut Kant kenyataan
sejati tak dapat diketahui karena dibatasi ruang dan waktu. Objek-objek yang
kita ketahui secara empiris bukanlah sebenarnya objek. Objek dalam filsafat
meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang selama ini kita ketahui “1+1”
adalah merupakan gejala. Gejala itu terlihat karena adanya sintesis antara
objek pengetahuan dan subjek pengetahun sendiri.
ANALISIS
Analisis
berkaitan dengan keputusan-keputusan. Misalnya “segiempat memiliki empat sudut”.
Keputusan ini disebut sebagai analitis a priori, karena predikat kalimat (memiliki
empat sudut) diperoleh dengan menganalisis subjek yaitu segiempat dan diperoleh
tanpa pengalaman atau biasa kita sebut sebagai intuisi.
Contoh
lain adalah “api itu panas” atau keputusan sintesis a posteriori. Predikat
yaitu panas diperoleh dari pengalaman dengan subyek api, sehingga bersifat
sintesis. Kant mengkritisi keputusan sintesis a priori yaitu predikat tidak
diperoleh dari pengalaman, tidak merupakan analisis atas subyek, tetapi
bersifat sintesis.
HASIL SINTESIS
Hasil
sintesis berkaitan dengan argumen. Pada hasil sintesis, unsur a posteriori
tidak dapat diterima secara langsung, tetapi terlebih dahulu melalui tahap
analisis. Unsur a priori adalah ide-ide yang menjadi suatu argumen.
TRANSCENDENTAL
AESTHETIC
Transcendental aesthetics berkaitan dengan kemampuan
seseorang dalam memperoleh pengalaman melalui intuisi. Intuisi sendiri adalah
pengalaman yang tidak kita ketahui kapan maupun dimana awal kita
mendapatkannya. Misalnya berkaitan dengan cinta dan sayang kepada orang tua.
Kita menyadari bahwa kita sangat mencintai dan menyayangi orang tua, tetapi
sejak kapan kita menyayangi orangtua tidak pernah kita ketahui awal mulanya.
Berdasarkan pengalaman kita diperlakukan baik, disayang oleh orang tua,
mengakibatkan kita juga menyayangi mereka. Dalam transcendental aesthetic tidak
terlepas dari ruang dan waktu. Ruang tidak berhubungan dengan benda atau
properti. Ruang tidak lain hanyalah bentuk dari segala penampakan akal luar,
yaitu, kondisi subjektif dari kepekaan, di mana satu-satunya intuisi luar yang
mungkin bagi kita. Sementara waktu merupakan intuisi apriori. Waktu bukanlah
suatu konsep. Ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan secara filsafat. Saat kita
menulis A=A itu adalah kesalahan, yang benar adalah A tidak sama dengan A. Tetapi A=A akan benar
saat dia berada pada pikiran, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dalam
transcendental aesthetic, cara untuk mensintesiskan apriori dari yang mungkin
adalah menggunakan intuisi apriori serta mengintegrasikannya dengan ruang dan
waktu. Menurut Kant, tidak semua pengetahuan apriori disebut transcendental.
TRANSCENDENTAL
LOGIC
Logika
Secara umum, mencakup dua sumber pengetahuan mendasar yaitu:
1. Sensibilitas
adalah kapasitas untuk menerima
representasi. Sensibilitas terdiri dari Ilmu estetika dan Bagaimana objek
diberikan kepada kita.
2. Pemahaman
adalah kekuatan mengetahui suatu objek melalui representasi. Pemahaman terdiri
dari Ilmu Logika dan Bagaimana suatu objek dipikirkan.
Kant
mencirikan logika transendental sebagai bukan abstrak dari seluruh isi
pengetahuan. Lebih lanjut, Kant mengklaim tidak setiap jenis pengetahuan
apriori harus disebut transendental.
Oleh
karena itu Kant berusahan menkombinasikan antara analitik apriori yang bersifat
rasional dengan sintesis a posteriori yang berdasarkan pengalaman menjadi
sintesis a priori yang menjadi dasar suatu ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar