Peserta didik remaja
memiliki rasa ingin tau (curiousity)
dan motivasi berpretasi (achievement
motivation) ketika dihadapkan pada permamasalahan dan cara berfikir
kompleks. Secara individu, ada kebutuhan dan keinginan yang kuat untuk dapat
menjadi bagian dan diterima oleh teman-teman mereka (Marsigit, 2013). Untuk
melakukan hal tersebut, peserta didik remaja lebih memiliki kesiapan yang lebih
matang untuk dapat berkompetisi dengan teman-temannya. Menurut Morrison &
Fletcher (2002) kesiapan kognitif adalah persiapan mental (termasuk ketrampilan,
pengetahuan, kemampuan, motivasi dan disposisi personal) yang seseorang
butuhkan untuk menentukan dan menyokong kompetensi penampilan di dalam
lingkungan yang kompleks dan tidak dapat diprediksi.
Dalam kegiatan di kelas
atau sekolah, guru adalah pengajar dan orang yang memberikan penjelasan. Lebih
dalam, guru matematika juga memiliki kewajiban untuk mampu menghubungkan
struktur matematika agar lebih bermakna. Guru harus memahami bagimana
membangkitkan rasa ingin tau siswa, memahami berbagai metode, pendekatan, atau
aktivitas yang mampu memotivasi siswa untuk belajar.
Sebagian besar guru selalu
memperhatikan karakteristik dan kemampuan siswanya. Guru juga harus memikirkan
bagaimana memfasilitasi siswa yang secara ekonomi kurang dan berkemampuan rendah
dalam memahami materi pembelajaran, tidak hanya siswa yang secara ekonomi
berkecukupan ataupun berkemampuan tinggi secara akademik saja. Kemampuan
intelektual itu penting agar menumbuhkan kemampuan mental siswa, dan motivasi
berpengaruh pada apa yang akan siswa kerjakan. Menurut Schunk, Pintrich, &
Meece (2004) motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Elliot (2005)
motivasi adalah keputusan seseorang dalam terlibat dalam suatu atau serangkaian
tindakan tertentu, sejauh mana seseorang bertahan dalam tindakan tersebut, dan
seberapa besar usaha untuk berkembang dalam tindakan tersebut. Oleh karena itu
siswa yang memiliki motivasi yang tinggi akan memiliki energi dan usaha yang
tinggi pula untuk mendapatkan sesuatu. Motivasi merupakan faktor yang sangat
penting bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.
Secara umum, sebagian guru
juga menyadari bahwa karakter proses belajar mengajar merupakan faktor kuat
yang mempengaruhi kemampuan siswa. Guru harus memusatkan perhatian kepada siswa
(karakteristik maupun aktivitas siswa), metode pembelajaran yang tepat untuk
siswa, menyesuaikan dengan kondisi pengetahuan siswa, mengidentifikasi dan
memberikan umpan balik pada kesulitan yang mereka hadapi, membantu siswa untuk
mampu mengembangkan potensi mereka dalam belajar matematika, memberikan
pembelajaran yang berkelanjutan sesuai dengan minat siswa, mengembangkan
kesadaran maupun kemandirian belajar.
Menurut Ernest (1995) hakikat
siswa belajar matematika adalah usaha mereka untuk mengkonstruksi pengetahuan
objektif matematika melalui interaksi dengan orang lain sehingga siswa mampu
merekonstruksi pengetahuan subjektif mereka melalui kegiatan refleksi. Siswa
harus mampu untuk mengkonstruk pengetahuan yang mereka peroleh kemudian
menemukan konsep baru. Dalam kegiatan refleksi, guru bisa mefasilitasi siswa
untuk menemukan gagasan baru dari pengetahuan yang sudah dipelajari dan mampu
untuk menjelaskannya.
Komponen
The Nature of Students’ Learn Mathematics yang tepat
Komponen
siswa belajar matematika sangatlah bervariasi. Mulai dari secara individu
sampai dengan menggunakan konsep budaya. Tetapi dengan kondisi siswa di
Indonesia saat ini, pembelajaran yang berbasis kontekstual yang tepat. Siswa
sering kali bertanya, nanti kalau sudah bekerja, integral digunakan untuk apa?
Apa manfaat materi integral dalam kehidupan? Ketidaktahuan siswa akan manfaat
matematika dalam kehidupan sehari-hari dapat menurunkan motivasi siswa dalam
belajar. Sebaliknya, saat siswa mengetahui bagaimana fungsi matematika dalam
kehidupan sehari-hari, siswa akan cenderung termotivasi untuk memahami materi
agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus mampu
membuat pembelajaran yang mampu menekankan konteks daripada konten.
Saat
ini pemerintah juga sedang menjalankan program asesmen nasional yang di
dalamnya terdapat instrumen AKM yaitu numerasi. Dalam numerasi lebih menekankan
konteks daripada konten. Soal disusun dengan kontekstual agar siswa terpancing
motivasinya karena soal yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Referensi
Elliot, J.G, et.al.(2005). Motivation, Engagement, and
Educational Performance. New York, NY: Palgrave Macmillan
Ernes, P. 2004. The Philosophy of Mathematics Education. Taylor &
Francis e-Library.
Marsigit. 2013.
The
Nature of Students Learn Mathematics. Diakses pada 3 November 2021 dari https://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-students-learn-mathematics.html
Morrison, J. E., & Fletcher, J.D. (2002). Cognitive
readiness. Alexandria, VA: Institute For Defense Analysis.
Schunk, D.H., Pintrich, P.R., & Meece, J.L.( 2010).
Motivation in education: theory, research, and applications. Upper Saddle
River, NJ: Pearson Education.