Senin, 13 Oktober 2014

MENGGAPAI RESTU TUHAN



MENGGAPAI RESTU TUHAN

Sumber: Terinsprirasi Perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Marsigit, M. A pada tanggal 2 Oktober 2014

Kontradiksi meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kontradiksi selalu ada selama manusia ada didunia. Pun ketidak konsistenan. Ketidak konsistenan akan selalu ada selama manusia masih berada di dunia. Mengalami kontradiksi pada hidup bukanlah sesuatu yang memalukan. Bukanlah sesuatu yang buruk. Bersyukurlah seseorang yang menglami kontradiksi. Dengan mengalami kontradiksi, seseorang bisa mengantisipasi kontradiksi yang terjadi padanya.
Kontradiksi bisa terjadi pada subjek dan predikat. Subjek dan predikat tidak akan pernah menjadi sama, mereka akan selalu kontradiksi. Predikat selalu termuat dalam subjek. Predikat adalah semua sifat dari subjek. Hanya Tuhan semesta alam yang dapat melakuknnya
Sebagai contoh kontradiksi yang terjadi antara anak dan orang tua. Jika orang tua adalah subjek dan anak adalah objek, maka ada bagian-bagian anak yang menjadi sifat orang tua. Misalnya restu ingin menikah. Memberi uang saku. Memberi tempat berteduh, menasehati. Jika orang tua memberi nasehat, maka secara filsasat, tidak bisa dikatakan bahwa orang tua adalah nasihat tetapi nasihat adalah milik sang orang tua. Andaikata orang tua menyadarinya, maka ada karakter lain sifat yang muncul yang merupakan kualitas berikutnya yaitu metafisik yaitu sifat dari sifat. Sifat-1 mempunyai sifat-2, sifat-2 mempunyai sifat-3, begitu juga seterusnya. Nasihat orang tua kepada anak sesungguhnya adalah nasihat yang bijaksana. Bijaksana punya sifat yaitu bijaksana yang alami. Alami yang sesuai dengan adat dan budaya. Adat dan budaya yang masih dilakukan, dst. Sifat meliputi yang ada dan mungkin ada sebagai sifat. Salah satunya adalah bahwa hubungan anatara subjek dan predikat bersifat determine. Menentukan. Misal seorang pejabat bisa menentukan nasib bawahan.
Determine menjatuhkan sifat baik pada subjek yang lain maupun pada objeknya, atau menjatuhkan sifat pada predikatnya.Tetapi jika pada persoalan Jatuh pada, didalam filsafat disebut accident. Accident yang kecil sampai yang besar, dekat sampai jauh, pandangan mata setiap orang adalah accident . Secara tidak sadar manusia yang satu telah menjatuhkan sifat pada pemikiran manusia yang lain.
Seorang anak terkadang berpikiran bahwa orang tua telah memaksakan kehendak kepada si anak, tapi tanpa diketahui orang tua memberi nasihat kepada anak, karena anak berkesempatan membahayakan dirinya sendiri. Yang menjadi masalah adalah saat nasihat orang tua kontradiksi dengan pemikiran anak. Perlu diketahui orang tua itu adalah tulus setiap hal yang dilakukannya. Orang tua mempunyai program, orang tua memiliki intuisi yang kuat terhadap anaknya.  Untuk mengatasi kontradiksi anak dengan orang tua dapat melakukan diskusi dengan kepala dingin, berpikir jernih.Dalam melakukan apapun hendaklah meminta restu orang tua. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua. Jika mempunyai hajat, keinginan, mintalah restu kepada orang tua untuk didoakan. InsyaAllah akan dimudahkan segala urusan. Jika ingin menggapai restu Allah, maka gapailah dahulu restu orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar