MENGGAPAI
RESTU TUHAN
Sumber: Terinsprirasi Perkuliahan Filsafat Ilmu oleh
Prof. Marsigit, M. A pada tanggal 2
Oktober 2014
Kontradiksi meliputi yang ada dan yang
mungkin ada. Kontradiksi selalu ada selama manusia ada didunia. Pun ketidak
konsistenan. Ketidak konsistenan akan selalu ada selama manusia masih berada di
dunia. Mengalami kontradiksi pada hidup bukanlah sesuatu yang memalukan.
Bukanlah sesuatu yang buruk. Bersyukurlah seseorang yang menglami kontradiksi.
Dengan mengalami kontradiksi, seseorang bisa mengantisipasi kontradiksi yang
terjadi padanya.
Kontradiksi bisa terjadi pada subjek dan
predikat. Subjek dan predikat tidak akan pernah menjadi sama, mereka akan
selalu kontradiksi. Predikat selalu termuat dalam subjek. Predikat adalah semua
sifat dari subjek. Hanya Tuhan semesta alam yang dapat melakuknnya
Sebagai contoh kontradiksi yang terjadi
antara anak dan orang tua. Jika orang tua adalah subjek dan anak adalah objek,
maka ada bagian-bagian anak yang menjadi sifat orang tua. Misalnya restu ingin
menikah. Memberi uang saku. Memberi tempat berteduh, menasehati. Jika orang tua
memberi nasehat, maka secara filsasat, tidak bisa dikatakan bahwa orang tua
adalah nasihat tetapi nasihat adalah milik sang orang tua. Andaikata orang tua
menyadarinya, maka ada karakter lain sifat yang muncul yang merupakan kualitas
berikutnya yaitu metafisik yaitu sifat dari sifat. Sifat-1 mempunyai sifat-2,
sifat-2 mempunyai sifat-3, begitu juga seterusnya. Nasihat orang tua kepada
anak sesungguhnya adalah nasihat yang bijaksana. Bijaksana punya sifat yaitu
bijaksana yang alami. Alami yang sesuai dengan adat dan budaya. Adat dan budaya
yang masih dilakukan, dst. Sifat meliputi yang ada dan mungkin ada sebagai
sifat. Salah satunya adalah bahwa hubungan anatara subjek dan predikat bersifat
determine. Menentukan. Misal seorang pejabat bisa menentukan nasib bawahan.
Determine menjatuhkan sifat baik pada
subjek yang lain maupun pada objeknya, atau menjatuhkan sifat pada
predikatnya.Tetapi jika pada persoalan Jatuh pada, didalam filsafat disebut
accident. Accident yang kecil sampai yang besar, dekat sampai jauh, pandangan
mata setiap orang adalah accident . Secara tidak sadar manusia yang satu telah
menjatuhkan sifat pada pemikiran manusia yang lain.
Seorang anak terkadang berpikiran bahwa
orang tua telah memaksakan kehendak kepada si anak, tapi tanpa diketahui orang
tua memberi nasihat kepada anak, karena anak berkesempatan membahayakan dirinya
sendiri. Yang menjadi masalah adalah saat nasihat orang tua kontradiksi dengan
pemikiran anak. Perlu diketahui orang tua itu adalah tulus setiap hal yang
dilakukannya. Orang tua mempunyai program, orang tua memiliki intuisi yang kuat
terhadap anaknya. Untuk mengatasi
kontradiksi anak dengan orang tua dapat melakukan diskusi dengan kepala dingin,
berpikir jernih.Dalam melakukan apapun hendaklah meminta restu orang tua. Ridha
Allah terletak pada ridha orang tua. Jika mempunyai hajat, keinginan, mintalah
restu kepada orang tua untuk didoakan. InsyaAllah akan dimudahkan segala
urusan. Jika ingin menggapai restu Allah, maka gapailah dahulu restu orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar