Rabu, 03 November 2021

The Nature of Students' Learn Mathematics

 

Peserta didik remaja memiliki rasa ingin tau (curiousity) dan motivasi berpretasi (achievement motivation) ketika dihadapkan pada permamasalahan dan cara berfikir kompleks. Secara individu, ada kebutuhan dan keinginan yang kuat untuk dapat menjadi bagian dan diterima oleh teman-teman mereka (Marsigit, 2013). Untuk melakukan hal tersebut, peserta didik remaja lebih memiliki kesiapan yang lebih matang untuk dapat berkompetisi dengan teman-temannya. Menurut Morrison & Fletcher (2002) kesiapan kognitif adalah persiapan mental (termasuk ketrampilan, pengetahuan, kemampuan, motivasi dan disposisi personal) yang seseorang butuhkan untuk menentukan dan menyokong kompetensi penampilan di dalam lingkungan yang kompleks dan tidak dapat diprediksi.

Dalam kegiatan di kelas atau sekolah, guru adalah pengajar dan orang yang memberikan penjelasan. Lebih dalam, guru matematika juga memiliki kewajiban untuk mampu menghubungkan struktur matematika agar lebih bermakna. Guru harus memahami bagimana membangkitkan rasa ingin tau siswa, memahami berbagai metode, pendekatan, atau aktivitas yang mampu memotivasi siswa untuk belajar.

Sebagian besar guru selalu memperhatikan karakteristik dan kemampuan siswanya. Guru juga harus memikirkan bagaimana memfasilitasi siswa yang secara ekonomi kurang dan berkemampuan rendah dalam memahami materi pembelajaran, tidak hanya siswa yang secara ekonomi berkecukupan ataupun berkemampuan tinggi secara akademik saja. Kemampuan intelektual itu penting agar menumbuhkan kemampuan mental siswa, dan motivasi berpengaruh pada apa yang akan siswa kerjakan. Menurut Schunk, Pintrich, & Meece (2004) motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Elliot (2005) motivasi adalah keputusan seseorang dalam terlibat dalam suatu atau serangkaian tindakan tertentu, sejauh mana seseorang bertahan dalam tindakan tersebut, dan seberapa besar usaha untuk berkembang dalam tindakan tersebut. Oleh karena itu siswa yang memiliki motivasi yang tinggi akan memiliki energi dan usaha yang tinggi pula untuk mendapatkan sesuatu. Motivasi merupakan faktor yang sangat penting bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

Secara umum, sebagian guru juga menyadari bahwa karakter proses belajar mengajar merupakan faktor kuat yang mempengaruhi kemampuan siswa. Guru harus memusatkan perhatian kepada siswa (karakteristik maupun aktivitas siswa), metode pembelajaran yang tepat untuk siswa, menyesuaikan dengan kondisi pengetahuan siswa, mengidentifikasi dan memberikan umpan balik pada kesulitan yang mereka hadapi, membantu siswa untuk mampu mengembangkan potensi mereka dalam belajar matematika, memberikan pembelajaran yang berkelanjutan sesuai dengan minat siswa, mengembangkan kesadaran maupun kemandirian belajar.

Menurut Ernest (1995) hakikat siswa belajar matematika adalah usaha mereka untuk mengkonstruksi pengetahuan objektif matematika melalui interaksi dengan orang lain sehingga siswa mampu merekonstruksi pengetahuan subjektif mereka melalui kegiatan refleksi. Siswa harus mampu untuk mengkonstruk pengetahuan yang mereka peroleh kemudian menemukan konsep baru. Dalam kegiatan refleksi, guru bisa mefasilitasi siswa untuk menemukan gagasan baru dari pengetahuan yang sudah dipelajari dan mampu untuk menjelaskannya.

 

Komponen The Nature of Students’ Learn Mathematics yang tepat

            Komponen siswa belajar matematika sangatlah bervariasi. Mulai dari secara individu sampai dengan menggunakan konsep budaya. Tetapi dengan kondisi siswa di Indonesia saat ini, pembelajaran yang berbasis kontekstual yang tepat. Siswa sering kali bertanya, nanti kalau sudah bekerja, integral digunakan untuk apa? Apa manfaat materi integral dalam kehidupan? Ketidaktahuan siswa akan manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari dapat menurunkan motivasi siswa dalam belajar. Sebaliknya, saat siswa mengetahui bagaimana fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari, siswa akan cenderung termotivasi untuk memahami materi agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus mampu membuat pembelajaran yang mampu menekankan konteks daripada konten.

            Saat ini pemerintah juga sedang menjalankan program asesmen nasional yang di dalamnya terdapat instrumen AKM yaitu numerasi. Dalam numerasi lebih menekankan konteks daripada konten. Soal disusun dengan kontekstual agar siswa terpancing motivasinya karena soal yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

 

Referensi

Elliot, J.G, et.al.(2005). Motivation, Engagement, and Educational Performance. New York, NY: Palgrave Macmillan

Ernes, P. 2004. The Philosophy of Mathematics Education. Taylor & Francis e-Library.

Marsigit. 2013. The Nature of Students Learn Mathematics. Diakses pada 3 November 2021 dari https://powermathematics.blogspot.com/2012/10/the-nature-of-students-learn-mathematics.html

Morrison, J. E., & Fletcher, J.D. (2002). Cognitive readiness. Alexandria, VA: Institute For Defense Analysis.

Schunk, D.H., Pintrich, P.R., & Meece, J.L.( 2010). Motivation in education: theory, research, and applications. Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar