Berdasar cerita Ketoprak UNY dalam rangka dies-natalis ke 54 berjudul “REMBULAN KEKALANG”
Pangeran Haryo Timur mendatangi Roro Mangli untuk
membunuhnya. Tetapi Roro Mangli bersikeras bahawa kesalahan tidak hanya darinya
ataupun dari ayahnya, tetapi juga dari kesalahan Pangeran Haryo Timur. Sehingga
Pangeran Haryo Timur tidak jadi membunuh Roro Mangli, yang sudah menjadi
istrinya. Pangeran Haryo Timur memutuskan memberontak Kerajaan Mataram.
Kemudian Pangeran Sepuh Purboyo menasehati Pangeran Haryo
Timur agar ingat dan tidak menyesal dibelakang, dengan kata-kata “Sak
bejo bejane wong lali, isih bejo wong eling lan waspada”, artinya
(menurut saya secara pribadi) bahwa seberungtung-beruntungnya
orang lupa (tidak sadar dengan keburukan yang dia kerjakan), lebih beruntung
orang yang ingat dan waspada (selalu berhati-hati agar selalu bertindak
kebaikan). Dengan tujuan agar Pangeran Haryo Timur kembali kepada Kerajaan
Mataram,Tetapi Pangeran Haryo Timur menolak dan tetap ingin memberontak
Kerajaan Mataram.
Roro Mangli merasa sedih dan putus asa karena gagal menjadi
permaisuri kerajaan Mataram. Kemudian memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri
karena gagal mewujudkan obesinya, didepan Pangeran Haryo Timur. Ceritapun
berakhir.
Pesan Moral yang dapat diambil adalah, bisa jadi kita
menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu. Dan bisa jadi kamu tidak
menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. Selalulah berpikir jernih dalam
bertindak dan tidak terobsesi dengan sesuatu yang bukan merupakan hak kita.
Setiap tindakan harus dipikirkan dengan weningin penggalih (kejernihan hati dan
pikiran) agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.
Pagelaran Ketoprak UNY dengan judul “Rembulan Kekalang” ini
sungguh memiliki nilai budaya maupun nilai kehidupan yang luar biasa. Semoga
kita bisa mengambil nilai positif dari pagelaran ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar