Rabu, 15 September 2021

NGURI-URI KABUDAYAN JAWI PART 3 (Final)

 Berdasar cerita Ketoprak UNY dalam rangka dies-natalis ke 54 berjudul “REMBULAN KEKALANG”

 

Pangeran Haryo Timur mendatangi Roro Mangli untuk membunuhnya. Tetapi Roro Mangli bersikeras bahawa kesalahan tidak hanya darinya ataupun dari ayahnya, tetapi juga dari kesalahan Pangeran Haryo Timur. Sehingga Pangeran Haryo Timur tidak jadi membunuh Roro Mangli, yang sudah menjadi istrinya. Pangeran Haryo Timur memutuskan memberontak Kerajaan Mataram.

 

Kemudian Pangeran Sepuh Purboyo menasehati Pangeran Haryo Timur agar ingat dan tidak menyesal dibelakang, dengan kata-kata “Sak bejo bejane wong lali, isih bejo wong eling lan waspada”, artinya (menurut saya secara pribadi) bahwa seberungtung-beruntungnya orang lupa (tidak sadar dengan keburukan yang dia kerjakan), lebih beruntung orang yang ingat dan waspada (selalu berhati-hati agar selalu bertindak kebaikan). Dengan tujuan agar Pangeran Haryo Timur kembali kepada Kerajaan Mataram,Tetapi Pangeran Haryo Timur menolak dan tetap ingin memberontak Kerajaan Mataram.

 

Roro Mangli merasa sedih dan putus asa karena gagal menjadi permaisuri kerajaan Mataram. Kemudian memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri karena gagal mewujudkan obesinya, didepan Pangeran Haryo Timur. Ceritapun berakhir.

 

Pesan Moral yang dapat diambil adalah, bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu. Dan bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. Selalulah berpikir jernih dalam bertindak dan tidak terobsesi dengan sesuatu yang bukan merupakan hak kita. Setiap tindakan harus dipikirkan dengan weningin penggalih (kejernihan hati dan pikiran) agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.

 

Pagelaran Ketoprak UNY dengan judul “Rembulan Kekalang” ini sungguh memiliki nilai budaya maupun nilai kehidupan yang luar biasa. Semoga kita bisa mengambil nilai positif dari pagelaran ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar