Terinspirasi pada perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada tanggal 2 September 2021
Berfilsafat adalah merubah
paradigma. Semakin tinggi keilmuaan seseorang maka semakin tinggi pula cara
berfikir seseorang. Tetapi dengan filsafat, saat semakin kita mengetahui
sesuatu, maka kita semakin sadar bahawa kita sebenarnya tidak mengetahui
apa-apa. Bahwa manusia tidak memiliki hak untuk meninggikan ketahuannya, karena
sebenarnya manusia tidaklah memiliki kesempurnaan.
Dimanapun, kita sebagai manusia
memiliki batasan-batasan. Sebaik-baiknya batasan adalah sopan santun. Sopan dan
santun dalam berbicara maupun bertindak. Dalam agama, sosial, maupun keluarga
pasti selalu diajarkan sopan santun. Sopan dan santun dalam berbicara,
bersikap, dan bertindak. Dalam dunia nyata maupun media sosial. Menggunakan
media sosial dengan bijak, dengan sopan, dengan santun, sehingga memberikan
manfaat untuk sesama.
Setinggi-tingginya ilmu adalah
sopan santun. Tetapi ternyata, sopan santun ini dapat dikalahkan oleh niat.
Kita bisa saja bersikap sopan dan santun, tetapi saat niat kita tidak baik maka
kita akan berpikir untuk melakukan hal tidak baik atau dalam kata lain,
memiliki motif yang tidak baik. Pikiran-pikiran tidak baik ini akan membentuk
sesuatu yang bernama politik. Motif ini bisa mengalahkan segala ilmu yang
tinggi sekalipun.
Adab kedua dalam berfilsafat
adalah Komprehensif, secara menyeluruh dan tuntas, tidak bisa hanya dipelajari
sepenggal, tidak bisa salah ruang dan waktu. Artinya belajar filsafat haruslah
secara menyeluruh dengan tujuan yang baik, mengolah pola pikir sehingga mampu
meningkatkan iman dan takwa, bukan untuk terlihat hebat diantara manusia lain.
Filsafat juga tidak digunakan untuk mempengaruhi ataupun memaksa orang lain,
filsafat juga hendaknya dapat disampaikan agar dipahami orang awam dengan
bahasa yang mudah, yang mudah dicerna. Ilmu sesulit apapun seyogyanya
disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam sehingga dapat
semakin banyak ilmu yang kita estafetkan. Guru yang hebat adalah guru yang mampun
membuat materi pelajaran yang sulit menjadi hal yang sederhana.
Objek metafisik dari filsafat
adalah yang ada dan yang mungkin ada. Objek material (isi) dan objek formal
(bentuk). Objek terkecil apapun akan dapat dikategorikan menjadi objek isi dan
bentuk. Alat berfilsafat adalah berbahasa secara analog, dapat dianalogikan.
Misalkan hati analog dengan doa. Inilah tantangan dalam belajar filsafat karena
sangat bersifat konotatif. Belajar filsafat harus mampu menganalogikan dua hal.
Di alam dunia, semua bersifat
relatif, sesuai sudut pandang. Bisa berbeda antara satu orang dengan orang yang
lain. Absolut atau kekuasaan mutlak hanyalah milik Tuhan. Saat kita mengatakan
besar, ternyata orang lain mengaggapnya kecil. Saat kita merasa sulit memahami
materi perkuliahan, ternyata ada diantara teman kita merasa sangat mudah. Karena
bersifat relatif, hidup di dunia itu bersifat kontradiktif, saling bertentangan.
Selanjutnya, dalam filsafat, metode yang digunakan adalah intensif (sedalam-dalamnya) dan esktensif (seluas-seluasnya). Bagaimana kita menganalisis suatu objek secara dalam dan luas. Tidak hanya dibagian luarnya saja, tetapi mendalam sampai ke dalam akar-akarnya, agar mendapatkan pengetahuan yang luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar