Rabu, 22 Desember 2021

PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF

 

PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF

 



 

 

 

Disusun oleh:

Furintasari Setya Astuti

201701261031

 

 

Disusun sebagai Tugas Akhir 1 Filsafat Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan

 yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A

 

 


 

 

PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2021



 

PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF

 

 

Abstrak

Pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan kompetensi-kompetensi agar dapat bertahan di abad ke-21 ini. Pendidikan tidak hanya mengedepankan output, tetapi input dan proses yang sama-sama pentingnya untuk dikaji kualitasnya. Melalui pendidikan seseorang akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga menciptakan inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru maupun siswa. Adanya pembelajaran inovatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih “terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Kondisi siswa Indonesia berdasarkan hasil PISA perlu menjadi perhatian serius. Soal-soal PISA mayoritas adalah soal dengan level Higher Order Thinking Skill. Rendahnya pencapaian siswa tentu mengindikasikan bahwa penerapan soal HOTS belum optimal. Dalam PISA terdapat tiga subtes yaitu literasi membaca, literasi matematis (numerasi) dan literasi sains. Pemerintah telah menggulirkan kebijakan literasi sekolah dengan harapan bahwa mampu meningkatkan kompetensi literasi siswa Indonesia. Literasi Matematis juga tidak luput dari perhatian. Pemerintah melalui kebijakan merdeka belajar mengeluarkan program asesmen nasional yang salah satu instrumennya adalah asesmen kompetensi minimum. Dalam asesmen kompetensi minimum terdapat subtes literasi matematis. Harapan dari asesmen kompetensi minimum adalah bagaimana konsep literasi dan numerasi dapat diterapkan di semua mata pelajaran di setiap kelas. Dalam asesmen kompetensi minimum, konten yang disajikan mengarah pada SDG’s Indonesia yang mulai tahun 2015 sudah dirancang oleh pemerintah. Indonesia diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030, sehingga siswa diarahkan untuk mengenal dan memahami SDG’s Indonesia. Prinsip dari SGD’s adalah menciptakan masa depan global melalui society 5.0. Pembelajaran Literasi Matematis diharapkan dapat menjadi inovasi pembelajaran di Indonesia dalam menghadapi society 5.0 era.

 

Kata kunci: inovasi, evaluasi, pembelajaran, literasi, matematika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan kasih sayang, serta petunjuk-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan yang berjudul “Pengembangan Evaluasi untuk Pendidikan dan Pembelajaran Inovatif”.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada semua pihak, yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan, arahan, motivasi, dan doa selama proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada:

1.      Prof. Dr. Marsigit, M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

2.      Teman-teman mahasiswa S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY Kelas A.

 

Teriring harapan dan doa semoga Allah SWT, membalas amal kebaikan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A dan teman-teman S3 PEP Kelas A. Tentunya masih banyak kekurangan yang ada dalam penulisan tugas akhir ini, untuk itu penulis sangat berharap masukan dari pembaca dan semoga tugas akhir berupa karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Aamiin.

 



                                                                                        Yogyakarta, Desember 2021

 

Furintasari Setya Astuti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN SAMPUL ...............................................................................................................      i

ABSTRAK ..................................................................................................................................      ii

KATA PENGANTAR ................................................................................................................      iii

DAFTAR ISI ...............................................................................................................................      iv

 

A.     PENDAHULUAN ..................................................................................................................      1

B.      INOVASI DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ............................................      2

C.      PENERAPAN LITERASI MATEMATIS BERKONTEKS SDG’S INDONESIA SEBAGAI PEMBELAJARAN INOVATIF .............................................................. .................................    7

 

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................       10




PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF

 

 

Furintasari Setya Astuti

Universitas Negeri Yogyakarta

furintasari0024pasca.2021@student.uny.id

 

 

 

A.    PENDAHULUAN

            Menurut UU No 20 tahun 2003 pasal 1 (Indonesia 2003), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Berdasarkan definisi pendidikan ini maka pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan kompetensi-kompetensi agar dapat bertahan di abad ke-21 ini. Pendidikan tidak hanya mengedepankan output, tetapi input dan proses yang sama-sama pentingnya untuk dikaji kualitasnya.

Melalui pendidikan seseorang akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga menciptakan inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru maupun siswa. Perkembangan mindset ini terbukti dari perubahan kurikulum yang diharapkan membawa dampak perubahan positif kepada guru maupun siswa. Perkembangan-perkembangan model, strategi, metode pembelajaran, penilaian juga menjadi bukti bahwa perubahan mindset akan menghasilkan inovasi dalam pendidikan. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih “terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Dalam menerima segala bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi.

Inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai suatu yang baru dan bermanfaat bagi seseorang atau sekelompok. Menurut Marsigit (Marsigit n.d.) ciri-ciri pembelajaran inovatif adalah:

1.      Student center

2.      Variasi media pembelajaran

3.      Variasi Metode Pembelajaran

4.      Variasi Interaksi: Klasikal, Kelompok, Individual

5.      Construktivisme

6.      Matematika Sekolah

7.      Realistik

8.      Bruner, Piaget, Vigotsky

9.      Kurikulum Interaktif

10.  Guru sebagai Fasilitator

11.  Education is for all

12.  Skema pembelajaran fleksibel

 

B.     INOVASI DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN

Dalam pelaksanaan suatu program pendidikan harus dikaji bagaimana pelaksanaannya. Dilakukan suatu evaluasi agar setiap program dapat mencapai tujuannya. Hal ini senada dengan UU No 20 tahun 2003 pasal 57 (Indonesia 2003), Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam rangka kegiatan evaluasi, sudah seharusnya evaluasi dilakukan oleh semua aspek yang terkait dalam program tersebut. UU No 20 tahun 2003 pasal 59 pasal 1 menegaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

Berdasarkan UU sisdiknas dan Hasil dari PISA 2018 menunjukkan bahwa indonesia menduduki peringkat 74 dari 79 negara. Dari ketiga subtes yang diujikan, yaitu literasi membaca, numerasi, dan sains, rata-rata skor siswa di Indonesia berada di bawah rata-rata PISA. Berikut trend pencapaian siswa Indonesia di PISA. (OECD 2018)

 

Dari trend PISA dari 2000 sampai 2018 terlihat bahwa skor PISA siswa Indonesia masih terus dibawah rata-rata OECD dan pada tahun 2018 dari ketiga subtes yaitu membaca, matematika, dan sains, skor siswa indonesia mengalami penurunan dari skor PISA 2015.

Lebih detail, berdasarkan hasil PISA 2018 (Schleicher 2019), 30% siswa mencapai kemahiran membaca setidaknya level 2, sementara rata-rata OECD adalah 77%. Sebanyak 0% siswa berprestasi di bidang membaca atau mencapai level 5 atau 6 sementara rata-rata OECD adalah 9%. Di bidang matematika, sebanyak 28% siswa Indonesia mencapai level 2 atau lebih sementara rata-rata OECD adalah 76%. Sekitar 1% siswa mencapai level 5 atau lebih sementara rata-rata OECD adalah 11%. Terakhir, di bidang sains, sekitar 40% siswa Indonesia mencapai level 2 atau lebih tinggi, sedangkan rata-rata OECD adalah 78%, dan sebanyak 0% siswa Indonesia mencapai level 5 atau 6 sedangkan rata-rata OECD adalah 7%. Jika digambarkan dalam diagram batang adalah sebagai berikut:

 



 

Berdasarkan hasil PISA 2018 tersebut, kemampuan siswa Indonesia (secara rata-rata) masih jauh di bawah rata-rata PISA.

            Berdasar pada hal ini pemerintah melalui kebijakan merdeka belajar meluncurkan program Asesmen Nasional dengan salah satu instrumennya adalah asesmen kompetensi minimum.


 

 

Dalam asesmen kompetensi minimum terdapat subtes literasi matematis (numerasi). Harapan dari asesmen kompetensi minimum adalah bagaimana konsep literasi dan numerasi dapat diterapkan di semua mata pelajaran di setiap kelas.

Dalam OECD dikatakan bahwa literasi matematis adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan, menggunakan, dan menginterpretasikan matematika dalam berbagai konteks. Dalam literasi matematis juga memuat penalaran matematika, menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat-alat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi suatu kejadian. (Schleicher 2019) Sementara itu Ojose (Ojose 2011) mengatakan bahwa literasi matematika adalah suatu pengetahuan untuk mengetahui dan menerapkan dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Literasi matematis adalah literasi matematika adalah keterampilan untuk memahami bagaimana matematika fungsi yang ada di dunia dan bagaimana menggunakannya untuk membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. (Rizki and Priatna 2019)

Berdasarkan definisi literasi matematis, terlihat jelas bahwa literasi matematis memiliki peran yang sangat penting dalam kaitan antara prosedur, konsep, maupun alat matematika dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercipta suatu pembelajaran yang bermakna.

Berkaitan dengan literasi matematis, konteks pada literasi matematis dapat dikaitkan dengan SDG’s (Sustainable Development Goals) yang mulai tahun 2015 sudah dibahas oleh pemerintah di Indonesia menyusul berakhirnya MDGs (Millenial Development Goals). Menurut BPS (Said et al. 2016), dalam SDG’s Indonesia memuat 17 tujuan untuk diimplementasikan yaitu:

1.      Mengakhiri Segala Bentuk Kemiskinan Dimanapun

2.      Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan

3.      Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia

4.      Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata Serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat Untuk Semua

5.      Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan

6.      Menjamin Ketersediaan serta Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi yang Berkelanjutan untuk Semua

7.      Menjamin Akses Energi yang Terjangkau, Andal, Berkelanjutan dan Modern Untuk Semua

8.      Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan, Kesempatan Kerja yang Produktif dan Menyeluruh, serta Pekerjaan yang Layak untuk Semua

9.      Membangun Infrastruktur yang Tangguh, Meningkatkan industri Inklusif dan Berkelanjutan, serta Mendorong Inovasi

10.  Mengurangi Kesenjangan Intra-Dan Antarnegara

11.  Menjadikan Kota dan Permukiman Inklusif, Aman, Tangguh, dan Berkelanjutan

12.  Menjamin Pola Produksi dan Konsumsi yang Berkelanjutan

13.  Mengambil Tindakan Cepat Untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Dampaknya

14.  Melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk Pembangunan yang Berkelanjutan

15.  Melindungi, Merestorasi Dan Meningkatkan Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Daratan, Mengelola Hutan Secara Lestari, Menghentikan Penggurunan, Memulihkan Degradasi Lahan, Serta Menghentikan Kehilangan Keanekaragaman Hayati

16.  Menguatkan Masyarakat yang Inklusif dan Damai untuk Pembangunan Berkelanjutan, Menyediakan Akses Keadilan untuk Semua, dan Membangun Kelembagaan yang Efektif, Akuntabel, dan Inklusif di semua Tingkatan

17.  Menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan

Pengimplementasian SDG’s di Indonesia diharapkan akan menciptakan bonus demografi yang puncaknya pada tahun 2030 yaitu berkisar 67 % (Irhamsyah 2019). Siswa harus dikenalkan dengan tujuan SDG’s yang didalamnya juga terdapat peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kebutuhan SDM yang berkualitas akan sangat bermanfaat untuk kualitas pembangunan Indonesia melalui bidang pendidikan (Sedagung et al. 2019).

Berdasarkan website resmi UII (Firdaus n.d.) Pemerintah Jepang telah membuat Prinsip-Prinsip Panduan Penerapan SDG dalam bidang sains, teknologi, dan inovasi (STI) dan memberikan rekomendasi yang meliputi:

1.      menciptakan masa depan global melalui Masyarakat 5.0,

2.      memungkinkan solusi menggunakan data global,

3.      mempromosikan kerja sama di tingkat global, dan

4.      membina sumber daya manusia untuk melakukan upaya STI untuk SDGs.

Dari hal di atas terlihat bahwa ada hubungan antara SGD’s dengan era society 5.0.

            Sejalan dengan revolusi industri 4.0, jepang menciptakan era society 5.0, era yang lebih memanusiakan manusia, sementara revolusi industri menitik beratkan pada perkembangan teknologi. Dalam society 5.0, hasil pada penerapan teknologi akan digunakan lagi oleh manusia agar menjadi lebih bermakna, sehingga bukan lagi semua pekerjaan dikendalikan oleh teknologi, tetapi dengan teknologi manusia dapat dimudahkan dengan berbagai kegiatan.

Salah satu ciri pembelajaran inovatif adalah realistik. Dengan penerapan literasi matematis berkonteks SDG’s Indonesia diharapkan mampu menerapkan pembelajaran realistik. Pemahaman matematika serta membuat matematika menjadi pembelajaran bermakna merupakan tujuan yang harus dicapai salah satunya adalah dengan cara menerapkan pengalaman matematika dalam kehidupan sehari-hari (Stylianides and Stylianides 2007).

 

C.    PENERAPAN LITERASI MATEMATIS BERKONTEKS SDG’S INDONESIA SEBAGAI PEMBELAJARAN INOVATIF

Literasi matematis sebenarnya tidak terbatas pada mata pelajaran matematika, tetapi dapat diterapkan di mata pelajaran lain. Tetapi dalam tulisan ini akan diberikan contoh soal penggunaan literasi matematis yang berkonteks SDG’s Indonesia.

Contoh 1

            Materi                         : Bangun Ruang Sisi Lengkung

            Tujuan SDG’s           : Menjamin Ketersediaan serta Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi yang Berkelanjutan untuk Semua

TIGA LANGKAH MENGHEMAT AIR DI RUMAH


Air adalah sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Air memang merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi ternyata di beberapa daerah di Indonesia pada saat musim kemarau mengalami kekeringan yang luar biasa. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menghemat air dimulai dari rumah.

Berkaitan dengan air, Nisrina akan membuat tumpeng berbentuk kerucut dengan diameter 35 cm dan tinggi 30 cm untuk acara di rumahnya. 1 liter beras akan dicampur 1 liter air untuk mendapatkan 1 buah tumpeng. Jika 1 galon setara dengan 15 liter air, dan Nisrina 2 hari menyikat gigi dengan mematikan keran, maka banyaknya tumpeng yang bisa dibuat Nisrina adalah…..

A.      5

B.      9

C.      10

D.      18

E.       20

 

 

Dalam soal di atas, siswa diberitahu cara-cara menghemat air dengan membiasakannya di rumah. Siswa akan memahami cara menghemat air  dan harapannya diimplementasikan di rumah sehingga dapat membantu mencapai tujuan SDG’s yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Selain itu, siswa diarahkan untuk memahami konsep bangun ruang sisi lengkung yang diintegrasikan dengan cara menghemat air besih. Melalui latihan yang meminta siswa menyelesaikan permasalahan nyata dengan matematika akan menghasilkan kepuasan yang lebih besar dan memudahkan siswa memahami apa yang ada disekitar mereka. (Lafuente-Lechuga, Cifuentes-Faura, and Faura-Martínez 2020)

 

 

Materi                        : Statistika

Tujuan SDG’s           : Mengakhiri Segala Bentuk Kemiskinan Dimanapun

 

Badan Pusat Statistik sebagai lembaga yang bertugas mengadakan survei, telah merilis Profil kemiskinan di Indonesia Maret 2020.



Berdasarkan hasil survei yang dilakukan BPS di atas, kesimpulan yang tepat adalah….

A.    Rata-rata jumlah penduduk miskin bulan maret lebih kecil daripada bulan September pada tahun 2013 – 2019

B.     Rata-rata jumlah penduduk miskin bulan maret lebih besar daripada bulan September pada tahun 2013 – 2019

C.     Rata-rata jumlah penduduk miskin bulan maret sama dengan rata-rata bulan September pada tahun 2013 – 2019

D.    Modus dari data jumlah penduduk miskin terjadi di tahun yang sama pada tahun 2013 – 2019

E.     Modus dari data jumlah penduduk miskin periode September terjadi di tahun 2015 pada tahun 2013 – 2019

 

Dalam soal di atas siswa diberikan informasi terkait kondisi kemiskinan di Indonesia yang dirilis oleh BPS. Dengan mengetahui kondisi masyarakat miskin di Indonesia diharapkan siswa akan memiliki gaya hidup hemat dan termotivasi untuk membuka lapangan kerja untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Selain mengetahui kondisi kemiskinan di Indonesia, secara bersamaan siswa diminta menyelesaikan soal statistika HOTS, sehingga dapat memancing critical thinking siswa.

 

 

Daftar Pustaka

Erdem, Cahit. 2019. “21st Century Skills and Education.” Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.

Firdaus. n.d. “Mengenal Society 5.0 ‘Sebuah Upaya Jepang Untuk Keamanan Dan Kesejahteraan Manusia.’” Retrieved (https://ee.uii.ac.id/2020/07/06/mengenal-society-5-0-sebuah-upaya-jepang-untuk-keamanan-dan-kesejahteraan-manusia/).

Indonesia, Presiden Republik. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Irhamsyah, Fahmi. 2019. “Sustainable Development Goals (SDGs) Dan Dampaknya Bagi Ketahanan Nasional Dampaknya Bagi Ketahanan Nasional.” Jurnal Kajian LEMHANNAS RI 45–54.

Lafuente-Lechuga, Matilde, Javier Cifuentes-Faura, and Úrsula Faura-Martínez. 2020. “Mathematics Applied to the Economy and Sustainable Development Goals: A Necessary Relationship of Dependence.” Education Sciences 10(11):1–12. doi: 10.3390/educsci10110339.

Marsigit. n.d. “Komponen Pembelajaran Inovatif.” Retrieved (https://powermathematics.blogspot.com/2014/10/komponen-pembelajaran-inovatif.html).

OECD. 2018. Result From PISA 2018: Country Note.

Ojose, Bobby. 2011. “Mathematics Literacy: Are We Able to Put the Mathematics We Learm into Everyday Use.” Journal Of Mathematics Education 4(1):89–100.

Rizki, L. M., and N. Priatna. 2019. “Mathematical Literacy as the 21st Century Skill.” Journal of Physics: Conference Series 1157(4). doi: 10.1088/1742-6596/1157/4/042088.

Said, Ali, Indah Budiati, Henri Asri Reagan, and Dkk. 2016. Potret Awal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Di Indonesia.

Schleicher, Andreas. 2019. PISA 2018 Insights and Interpretations.

Sedagung, Adityo Darmawan, Veronoca Putri, Joy Evan, Ivan Sasiva, and Laras Putri Olifiani. 2019. “Upaya Indonesia Mencapai Target Sutainable Development Goals Bidang Pendidikan Di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat (2014-2019).” Jurnal Polinter 5(1):12–32.

Stylianides, Andreas J., and Gabriel J. Stylianides. 2007. “Learning Mathematics with Understanding: A Critical Consideration of the Learning Principle in the Principles and Standards for School Mathematics.” The Montana Mathematics Enthusiast 4(1):103–14.

 

 

 

 

 

 

 




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar