PENGEMBANGAN
EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF
Disusun
oleh:
Furintasari
Setya Astuti
201701261031
Disusun
sebagai Tugas Akhir 1 Filsafat Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan
yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A
PENELITIAN
DAN EVALUASI PENDIDIKAN
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2021
PENGEMBANGAN
EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF
Abstrak
Pendidikan memegang peranan penting dalam
mewujudkan kompetensi-kompetensi agar dapat bertahan di abad ke-21 ini.
Pendidikan tidak hanya mengedepankan output, tetapi input dan proses yang
sama-sama pentingnya untuk dikaji kualitasnya. Melalui pendidikan seseorang
akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga menciptakan
inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru maupun siswa.
Adanya pembelajaran inovatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku
pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih
“terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Kondisi siswa Indonesia
berdasarkan hasil PISA perlu menjadi perhatian serius. Soal-soal PISA mayoritas
adalah soal dengan level Higher Order Thinking
Skill. Rendahnya pencapaian siswa tentu mengindikasikan bahwa penerapan
soal HOTS belum optimal. Dalam PISA terdapat tiga subtes yaitu literasi
membaca, literasi matematis (numerasi) dan literasi sains. Pemerintah telah
menggulirkan kebijakan literasi sekolah dengan harapan bahwa mampu meningkatkan
kompetensi literasi siswa Indonesia. Literasi Matematis juga tidak luput dari
perhatian. Pemerintah melalui kebijakan merdeka belajar mengeluarkan program
asesmen nasional yang salah satu instrumennya adalah asesmen kompetensi
minimum. Dalam asesmen kompetensi minimum terdapat subtes literasi matematis.
Harapan dari asesmen kompetensi minimum adalah bagaimana konsep literasi dan
numerasi dapat diterapkan di semua mata pelajaran di setiap kelas. Dalam asesmen
kompetensi minimum, konten yang disajikan mengarah pada SDG’s Indonesia yang
mulai tahun 2015 sudah dirancang oleh pemerintah. Indonesia diprediksi akan
mengalami puncak bonus demografi pada 2030, sehingga siswa diarahkan untuk
mengenal dan memahami SDG’s Indonesia. Prinsip dari SGD’s adalah menciptakan
masa depan global melalui society 5.0. Pembelajaran Literasi Matematis
diharapkan dapat menjadi inovasi pembelajaran di Indonesia dalam menghadapi
society 5.0 era.
Kata
kunci: inovasi, evaluasi, pembelajaran, literasi, matematika
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan
rahmat dan kasih sayang, serta petunjuk-NYA sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan yang
berjudul “Pengembangan Evaluasi untuk Pendidikan dan Pembelajaran Inovatif”.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada semua pihak, yang
telah memberikan bantuan berupa bimbingan, arahan, motivasi, dan doa selama
proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis
sampaikan kepada:
1.
Prof.
Dr. Marsigit, M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan.
2.
Teman-teman
mahasiswa S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY Kelas A.
Teriring harapan dan doa semoga Allah SWT,
membalas amal kebaikan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A dan teman-teman S3 PEP
Kelas A. Tentunya masih banyak kekurangan yang ada dalam penulisan tugas akhir
ini, untuk itu penulis sangat berharap masukan dari pembaca dan semoga tugas
akhir berupa karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Aamiin.
Furintasari
Setya Astuti
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
............................................................................................................... i
ABSTRAK
.................................................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR
................................................................................................................ iii
DAFTAR ISI
............................................................................................................................... iv
A.
PENDAHULUAN
.................................................................................................................. 1
B.
INOVASI DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
............................................ 2
C.
PENERAPAN LITERASI MATEMATIS BERKONTEKS
SDG’S INDONESIA SEBAGAI PEMBELAJARAN INOVATIF
.............................................................. ................................. 7
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................................................. 10
PENGEMBANGAN
EVALUASI UNTUK PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN INOVATIF
Furintasari
Setya Astuti
Universitas Negeri Yogyakarta
furintasari0024pasca.2021@student.uny.id
A.
PENDAHULUAN
Menurut
UU No 20 tahun 2003 pasal 1 (Indonesia 2003), pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Berdasarkan definisi pendidikan ini maka
pendidikan memegang peranan penting dalam mewujudkan kompetensi-kompetensi agar
dapat bertahan di abad ke-21 ini. Pendidikan tidak hanya mengedepankan output,
tetapi input dan proses yang sama-sama pentingnya untuk dikaji kualitasnya.
Melalui pendidikan
seseorang akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga
menciptakan inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru
maupun siswa. Perkembangan mindset ini terbukti dari perubahan kurikulum yang
diharapkan membawa dampak perubahan positif kepada guru maupun siswa.
Perkembangan-perkembangan model, strategi, metode pembelajaran, penilaian juga
menjadi bukti bahwa perubahan mindset akan menghasilkan inovasi dalam
pendidikan. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku
pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih
“terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Dalam menerima segala
bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan
pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi.
Inovasi ialah suatu ide,
barang, kejadian, metode yang diamati sebagai suatu yang baru dan bermanfaat bagi
seseorang atau sekelompok. Menurut Marsigit (Marsigit n.d.) ciri-ciri
pembelajaran inovatif adalah:
1. Student
center
2. Variasi
media pembelajaran
3. Variasi
Metode Pembelajaran
4. Variasi
Interaksi: Klasikal, Kelompok, Individual
5. Construktivisme
6. Matematika
Sekolah
7. Realistik
8. Bruner,
Piaget, Vigotsky
9. Kurikulum
Interaktif
10. Guru
sebagai Fasilitator
11. Education
is for all
12. Skema
pembelajaran fleksibel
B.
INOVASI
DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Dalam pelaksanaan suatu
program pendidikan harus dikaji bagaimana pelaksanaannya. Dilakukan suatu
evaluasi agar setiap program dapat mencapai tujuannya. Hal ini senada dengan UU
No 20 tahun 2003 pasal 57 (Indonesia 2003), Evaluasi
dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai
bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Dalam rangka kegiatan evaluasi, sudah seharusnya evaluasi
dilakukan oleh semua aspek yang terkait dalam program tersebut. UU No 20 tahun
2003 pasal 59 pasal 1 menegaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah
melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan.
Berdasarkan UU sisdiknas dan Hasil dari PISA 2018 menunjukkan bahwa indonesia menduduki peringkat 74 dari 79 negara. Dari ketiga subtes yang diujikan, yaitu literasi membaca, numerasi, dan sains, rata-rata skor siswa di Indonesia berada di bawah rata-rata PISA. Berikut trend pencapaian siswa Indonesia di PISA. (OECD 2018)
Dari trend PISA dari 2000 sampai 2018
terlihat bahwa skor PISA siswa Indonesia masih terus dibawah rata-rata OECD dan
pada tahun 2018 dari ketiga subtes yaitu membaca, matematika, dan sains, skor
siswa indonesia mengalami penurunan dari skor PISA 2015.
Lebih detail, berdasarkan
hasil PISA 2018 (Schleicher 2019), 30% siswa
mencapai kemahiran membaca setidaknya level 2, sementara rata-rata OECD adalah
77%. Sebanyak 0% siswa berprestasi di bidang membaca atau mencapai level 5 atau
6 sementara rata-rata OECD adalah 9%. Di bidang matematika, sebanyak 28% siswa
Indonesia mencapai level 2 atau lebih sementara rata-rata OECD adalah 76%.
Sekitar 1% siswa mencapai level 5 atau lebih sementara rata-rata OECD adalah
11%. Terakhir, di bidang sains, sekitar 40% siswa Indonesia mencapai level 2
atau lebih tinggi, sedangkan rata-rata OECD adalah 78%, dan sebanyak 0% siswa
Indonesia mencapai level 5 atau 6 sedangkan rata-rata OECD adalah 7%. Jika
digambarkan dalam diagram batang adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil PISA 2018 tersebut,
kemampuan siswa Indonesia (secara rata-rata) masih jauh di bawah rata-rata
PISA.
Berdasar
pada hal ini pemerintah melalui kebijakan merdeka belajar meluncurkan program
Asesmen Nasional dengan salah satu instrumennya adalah asesmen kompetensi
minimum.
Dalam asesmen kompetensi minimum terdapat
subtes literasi matematis (numerasi). Harapan dari asesmen kompetensi minimum
adalah bagaimana konsep literasi dan numerasi dapat diterapkan di semua mata
pelajaran di setiap kelas.
Dalam OECD dikatakan
bahwa literasi matematis adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan,
menggunakan, dan menginterpretasikan matematika dalam berbagai konteks. Dalam
literasi matematis juga memuat penalaran matematika, menggunakan konsep,
prosedur, fakta, dan alat-alat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan,
dan memprediksi suatu kejadian. (Schleicher 2019) Sementara itu
Ojose (Ojose 2011) mengatakan bahwa
literasi matematika adalah suatu pengetahuan untuk mengetahui dan menerapkan
dasar matematika dalam kehidupan sehari-hari. Literasi matematis adalah
literasi matematika adalah keterampilan untuk memahami bagaimana matematika
fungsi yang ada di dunia dan bagaimana menggunakannya untuk membuat keputusan
dalam kehidupan sehari-hari. (Rizki and Priatna 2019)
Berdasarkan definisi
literasi matematis, terlihat jelas bahwa literasi matematis memiliki peran yang
sangat penting dalam kaitan antara prosedur, konsep, maupun alat matematika
dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercipta suatu pembelajaran yang
bermakna.
Berkaitan dengan literasi
matematis, konteks pada literasi matematis dapat dikaitkan dengan SDG’s (Sustainable Development Goals) yang
mulai tahun 2015 sudah dibahas oleh pemerintah di Indonesia menyusul
berakhirnya MDGs (Millenial Development
Goals). Menurut BPS (Said et al. 2016), dalam SDG’s
Indonesia memuat 17 tujuan untuk diimplementasikan yaitu:
1. Mengakhiri
Segala Bentuk Kemiskinan Dimanapun
2. Menghilangkan
kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan
pertanian berkelanjutan
3. Menjamin
Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia
4. Menjamin
Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata Serta Meningkatkan Kesempatan
Belajar Sepanjang Hayat Untuk Semua
5. Mencapai
Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan
6. Menjamin
Ketersediaan serta Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi yang Berkelanjutan untuk
Semua
7. Menjamin
Akses Energi yang Terjangkau, Andal, Berkelanjutan dan Modern Untuk Semua
8. Meningkatkan
Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan, Kesempatan Kerja yang
Produktif dan Menyeluruh, serta Pekerjaan yang Layak untuk Semua
9. Membangun
Infrastruktur yang Tangguh, Meningkatkan industri Inklusif dan Berkelanjutan,
serta Mendorong Inovasi
10. Mengurangi
Kesenjangan Intra-Dan Antarnegara
11. Menjadikan
Kota dan Permukiman Inklusif, Aman, Tangguh, dan Berkelanjutan
12. Menjamin
Pola Produksi dan Konsumsi yang Berkelanjutan
13. Mengambil
Tindakan Cepat Untuk Mengatasi Perubahan Iklim dan Dampaknya
14. Melestarikan
dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk
Pembangunan yang Berkelanjutan
15. Melindungi,
Merestorasi Dan Meningkatkan Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Daratan,
Mengelola Hutan Secara Lestari, Menghentikan Penggurunan, Memulihkan Degradasi
Lahan, Serta Menghentikan Kehilangan Keanekaragaman Hayati
16. Menguatkan
Masyarakat yang Inklusif dan Damai untuk Pembangunan Berkelanjutan, Menyediakan
Akses Keadilan untuk Semua, dan Membangun Kelembagaan yang Efektif, Akuntabel,
dan Inklusif di semua Tingkatan
17. Menguatkan
sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan
berkelanjutan
Pengimplementasian SDG’s
di Indonesia diharapkan akan menciptakan bonus demografi yang puncaknya pada
tahun 2030 yaitu berkisar 67 % (Irhamsyah 2019). Siswa harus
dikenalkan dengan tujuan SDG’s yang didalamnya juga terdapat peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia. Kebutuhan SDM yang berkualitas akan sangat
bermanfaat untuk kualitas pembangunan Indonesia melalui bidang pendidikan (Sedagung et al. 2019).
Berdasarkan
website resmi UII (Firdaus n.d.) Pemerintah Jepang
telah membuat Prinsip-Prinsip Panduan Penerapan SDG dalam bidang sains,
teknologi, dan inovasi (STI) dan memberikan rekomendasi yang meliputi:
1. menciptakan
masa depan global melalui Masyarakat 5.0,
2. memungkinkan
solusi menggunakan data global,
3. mempromosikan
kerja sama di tingkat global, dan
4. membina
sumber daya manusia untuk melakukan upaya STI untuk SDGs.
Dari hal di atas terlihat bahwa ada
hubungan antara SGD’s dengan era society 5.0.
Sejalan
dengan revolusi industri 4.0, jepang menciptakan era society 5.0, era yang
lebih memanusiakan manusia, sementara revolusi industri menitik beratkan pada
perkembangan teknologi. Dalam society 5.0, hasil pada penerapan teknologi akan
digunakan lagi oleh manusia agar menjadi lebih bermakna, sehingga bukan lagi
semua pekerjaan dikendalikan oleh teknologi, tetapi dengan teknologi manusia
dapat dimudahkan dengan berbagai kegiatan.
Salah satu ciri
pembelajaran inovatif adalah realistik. Dengan penerapan literasi matematis
berkonteks SDG’s Indonesia diharapkan mampu menerapkan pembelajaran realistik.
Pemahaman matematika serta membuat matematika menjadi pembelajaran bermakna
merupakan tujuan yang harus dicapai salah satunya adalah dengan cara menerapkan
pengalaman matematika dalam kehidupan sehari-hari (Stylianides and Stylianides 2007).
C.
PENERAPAN
LITERASI MATEMATIS BERKONTEKS SDG’S INDONESIA SEBAGAI PEMBELAJARAN INOVATIF
Literasi
matematis sebenarnya tidak terbatas pada mata pelajaran matematika, tetapi
dapat diterapkan di mata pelajaran lain. Tetapi dalam tulisan ini akan
diberikan contoh soal penggunaan literasi matematis yang berkonteks SDG’s
Indonesia.
Contoh 1
Materi : Bangun Ruang Sisi
Lengkung
Tujuan SDG’s : Menjamin Ketersediaan serta Pengelolaan Air Bersih dan
Sanitasi yang Berkelanjutan untuk Semua
TIGA LANGKAH MENGHEMAT AIR DI
RUMAH
Air adalah sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Air memang merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi ternyata di beberapa daerah di Indonesia pada saat musim kemarau mengalami kekeringan yang luar biasa. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menghemat air dimulai dari rumah.
Berkaitan dengan air, Nisrina akan membuat tumpeng
berbentuk kerucut dengan diameter 35 cm dan tinggi 30 cm untuk acara di
rumahnya. 1 liter beras akan dicampur 1 liter air untuk mendapatkan 1 buah
tumpeng. Jika 1 galon setara dengan 15 liter air, dan Nisrina 2 hari menyikat
gigi dengan mematikan keran, maka banyaknya tumpeng yang bisa dibuat Nisrina
adalah…..
A.
5
B.
9
C.
10
D.
18
E.
20
Dalam
soal di atas, siswa diberitahu cara-cara menghemat air dengan membiasakannya di
rumah. Siswa akan memahami cara menghemat air
dan harapannya diimplementasikan di rumah sehingga dapat membantu
mencapai tujuan SDG’s yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Selain
itu, siswa diarahkan untuk memahami konsep bangun ruang sisi lengkung yang
diintegrasikan dengan cara menghemat air besih. Melalui latihan yang meminta
siswa menyelesaikan permasalahan nyata dengan matematika akan menghasilkan
kepuasan yang lebih besar dan memudahkan siswa memahami apa yang ada disekitar
mereka. (Lafuente-Lechuga, Cifuentes-Faura, and Faura-Martínez
2020)
Materi : Statistika
Tujuan
SDG’s :
Mengakhiri Segala Bentuk Kemiskinan Dimanapun
Badan Pusat Statistik sebagai lembaga yang
bertugas mengadakan survei, telah merilis Profil kemiskinan di Indonesia Maret
2020.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan
BPS di atas, kesimpulan yang tepat adalah….
A.
Rata-rata jumlah
penduduk miskin bulan maret lebih kecil daripada bulan September pada tahun
2013 – 2019
B.
Rata-rata jumlah penduduk miskin bulan
maret lebih besar daripada bulan September pada tahun 2013 – 2019
C.
Rata-rata jumlah penduduk miskin bulan
maret sama dengan rata-rata bulan September pada tahun 2013 – 2019
D.
Modus dari data jumlah penduduk miskin
terjadi di tahun yang sama pada tahun 2013 – 2019
E.
Modus dari data jumlah penduduk miskin
periode September terjadi di tahun 2015 pada tahun 2013 – 2019
Dalam
soal di atas siswa diberikan informasi terkait kondisi kemiskinan di Indonesia
yang dirilis oleh BPS. Dengan mengetahui kondisi masyarakat miskin di Indonesia
diharapkan siswa akan memiliki gaya hidup hemat dan termotivasi untuk membuka
lapangan kerja untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Selain
mengetahui kondisi kemiskinan di Indonesia, secara bersamaan siswa diminta
menyelesaikan soal statistika HOTS, sehingga dapat memancing critical thinking
siswa.
Daftar
Pustaka
Erdem, Cahit. 2019. “21st Century Skills and
Education.” Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.
Firdaus. n.d. “Mengenal Society 5.0 ‘Sebuah Upaya Jepang
Untuk Keamanan Dan Kesejahteraan Manusia.’” Retrieved
(https://ee.uii.ac.id/2020/07/06/mengenal-society-5-0-sebuah-upaya-jepang-untuk-keamanan-dan-kesejahteraan-manusia/).
Indonesia, Presiden Republik. 2003. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Irhamsyah, Fahmi. 2019. “Sustainable Development Goals (SDGs)
Dan Dampaknya Bagi Ketahanan Nasional Dampaknya Bagi Ketahanan Nasional.” Jurnal
Kajian LEMHANNAS RI 45–54.
Lafuente-Lechuga, Matilde, Javier Cifuentes-Faura, and Úrsula
Faura-Martínez. 2020. “Mathematics Applied to the Economy and Sustainable
Development Goals: A Necessary Relationship of Dependence.” Education
Sciences 10(11):1–12. doi: 10.3390/educsci10110339.
Marsigit. n.d. “Komponen Pembelajaran Inovatif.” Retrieved
(https://powermathematics.blogspot.com/2014/10/komponen-pembelajaran-inovatif.html).
OECD. 2018. Result From PISA 2018: Country Note.
Ojose, Bobby. 2011. “Mathematics Literacy: Are We Able to Put
the Mathematics We Learm into Everyday Use.” Journal Of Mathematics
Education 4(1):89–100.
Rizki, L. M., and N. Priatna. 2019. “Mathematical Literacy as
the 21st Century Skill.” Journal of Physics: Conference Series 1157(4).
doi: 10.1088/1742-6596/1157/4/042088.
Said, Ali, Indah Budiati, Henri Asri Reagan, and Dkk. 2016. Potret
Awal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Di
Indonesia.
Schleicher, Andreas. 2019. PISA 2018 Insights and
Interpretations.
Sedagung, Adityo Darmawan, Veronoca Putri, Joy Evan, Ivan
Sasiva, and Laras Putri Olifiani. 2019. “Upaya Indonesia Mencapai Target
Sutainable Development Goals Bidang Pendidikan Di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau
Kalimantan Barat (2014-2019).” Jurnal Polinter 5(1):12–32.
Stylianides, Andreas J., and Gabriel J. Stylianides. 2007.
“Learning Mathematics with Understanding: A Critical Consideration of the
Learning Principle in the Principles and Standards for School Mathematics.” The
Montana Mathematics Enthusiast 4(1):103–14.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar