Rabu, 15 Desember 2021

PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN


PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN



 

 

Disusun oleh:

Furintasari Setya Astuti

201701261031

 

 

Disusun sebagai Tugas Akhir 1 Filsafat Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan

 yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A

 


 

PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2021





PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

 

 

Abstrak

 

Abad ke-21 yang dikenal sebagai abad globalisasi. Abad ke-21 ditandai dengan perubahan paradigma, termasuk di bidang pendidikan. Dalam menerima segala bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi. Perubahan-perubahan tersebut tentu tidak terlepas dari evaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah memberikan penilaian, dan informasi yang akurat, penting, layak, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka pengambilan keputusan. Evaluasi menjadi hal yang sangat krusial yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dari pembelajaran, program, sampai dengan kebijakan yang diimplementasikan harus dilakukan evaluasi agar mampu melihat potret sebenarnya sehingga dapat diberikan rekomendasi-rekomendasi agar implementasinya terus mengalami peningkatan kualitas yang baik. Kaitannya dengan filsafat, bagian tertinggi dalam berfilsafat adalah spiritualitas. Artinya bahwa kebermaknaan dari filsafat adalah spiritual. Dalam pengembangan-pengembangan inovasi, harus diikuti dengan penetapan nilai-nilai atau norma-norma spritualitas sebagai landasan maupun tujuan. Dalam filsafat ada tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi adalah ilmu tentang apa adanya, tentang jenis dan struktur objek, sifat, peristiwa, proses, dan hubungan di setiap area realitas. Epistimologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang sumber pengetahuan. Aksiologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut. Kaitannya dengan ideologi, terdapat tujuh ideologi pendidikan yaitu: 1) ideologi radikal, 2) ideologi konservatif, 3) ideologi liberal, 4) ideologi humanis, 5) ideologi progresif, 6) ideologi sosialis, 7) ideologi demokrasi. Dari ketujuh ideologi, yang tepat digunakan saat ini adalah ideologi demokrasi.

 

 

Kata kunci: filsafat, ideologi, evaluasi

 


KATA PENGANTAR

 

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan kasih sayang, serta petunjuk-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan yang berjudul “Penerapan Filsafat dan Ideologi Dalam Pengembangan Evaluasi Pendidikan dan Pengajaran”.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada semua pihak, yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan, arahan, motivasi, dan doa selama proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada:

1.      Prof. Dr. Marsigit, M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

2.      Teman-teman mahasiswa S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY Kelas A.

 

Teriring harapan dan doa semoga Allah SWT, membalas amal kebaikan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A dan teman-teman S3 PEP Kelas A. Tentunya masih banyak kekurangan yang ada dalam penulisan tugas akhir ini, untuk itu penulis sangat berharap masukan dari pembaca dan semoga tugas akhir berupa karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Aamiin.


 

Yogyakarta, Desember 2021

                                                                                             Furintasari Setya Astuti

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN SAMPUL ...............................................................................................................      i

ABSTRAK ..................................................................................................................................      ii

KATA PENGANTAR ................................................................................................................      iii

DAFTAR ISI ...............................................................................................................................      iv

 

A.     PENDAHULUAN ..................................................................................................................      1

B.      PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SPIRITUAL ..............................................      2

C.      EVALUASI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ...........................      4

D.     IDEOLOGI DALAM PENDIDIKAN

1.       Ideologi Radikal ..............................................................................................................      5

2.       Ideologi Konservatif ........................................................................................................      5

3.       Ideologi Liberal ...............................................................................................................      6

4.       Ideologi Humanis ............................................................................................................      6

5.       Ideologi Progresif ............................................................................................................      6

6.       Ideologi Sosialis ..............................................................................................................      7

7.       Ideologi Demokrasi .........................................................................................................      7

 

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................       8

 

 

 

 





PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

 

Oleh

Furintasari Setya Astuti

21701261031

 

 

A. PENDAHULUAN

Abad ke-21 yang dikenal sebagai abad globalisasi. Abad ke-21 ditandai dengan perubahan paradigma, termasuk di bidang pendidikan. Menurut Akgunduz & Ertepinar dalam Erdem (Erdem 2019) selama berabad-abad, hanya sejumlah kecil orang yang perlu memiliki keterampilan seperti kreativitas, berpikir kritis, dan problem solving, namun di abad 21 setiap warna negara perlu memiliki keterampilan ini. Dalam bidang pendidikan peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan seluruh stake holder pendidikan harus memiliki kompetensi-kompetensi tersebut agar dapat bertahan di abad ke-21 yang penuh dengan disruption.

Melalui pendidikan seseorang akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga menciptakan inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru maupun siswa. Perkembangan mindset ini terbukti dari perubahan kurikulum yang diharapkan membawa dampak perubahan positif kepada guru maupun siswa. Perkembangan-perkembangan model, strategi, metode pembelajaran, penilaian juga menjadi bukti bahwa perubahan mindset akan menghasilkan inovasi dalam pendidikan. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih “terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Dalam menerima segala bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi.

Perubahan-perubahan tersebut tentu tidak terlepas dari evaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah memberikan penilaian, dan informasi yang akurat, penting, layak, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka pengambilan keputusan (Fitzpatrick, Sanders, and Worthen 2011). Evaluasi menjadi hal yang sangat krusial yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dari pembelajaran, program, sampai dengan kebijakan yang diimplementasikan harus dilakukan evaluasi agar mampu melihat potret sebenarnya sehingga dapat diberikan rekomendasi-rekomendasi agar implementasinya terus mengalami peningkatan kualitas yang baik.

 

Dalam rangkaian pembelajaran, terdapat tiga langkah yang sangat penting yaitu perencanaan , pelaksanaan, dan pengembangan.

 



Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang terus saling berhubungan. Perencanaan yang tepat, yang dapat mengakomodir kebutuhan siswa, akan mampu menerapkan proses pembelajaran yang baik sehingga dapat memperoleh penilaian yang autentik dan fair. Setelah perencanaan dan pelaksanaan berjalan lancar, evaluasi akan dilakukan guna memperoleh pengembangan dari perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran.

 

B. PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SPIRITUAL

Berfilsafat adalah merdeka dalam memikirkan objek filsafat ataupun berpendapat, tetapi ternyata dalam filsafat itu juga besifat terbatas. Berikut urutan terkait filsafat.



Dari piramida di atas terlihat bahwa, bagian tertinggi dalam berfilsafat adalah spiritualitas. Artinya bahwa kebermaknaan dari filsafat adalah spiritual. Dalam pengembangan-pengembangan inovasi, harus diikuti dengan penetapan nilai-nilai atau norma-norma spritualitas sebagai landasan maupun tujuan. Sementara itu menurut Marsigit (Marsigit 2013), struktur dunia adalah sebagai berikut:



Agar menjadi pedoman dalam beribadah, termasuk belajar maupun mengajar sebaik-baiknya sekaligus sebagai sumber karakter maupun panduan kebenaran atas dunia. (Marsigit 2013).

Menurut Ki Hajar Dewantara (Sugiarta et al. 2019) pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan merupakan suatu proses yang mencakup tiga dimensi, individu, masyarakat atau komunitas nasional dari individu tersebut, dan seluruh kandungan realitas, baik material maupun spiritual yang memainkan peranan dalam menentukan sifat, nasib, bentuk manusia maupun masyarakat (Nurkholis 2013). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki kaitan yang sangat erat dalam spiritualitas. Dalam mencapai spiritualitas seseorang membutuhkan pendidikan. Pendidikan tidak hanya diterapkan dalam lingkungan sekolah, tetapi dapat diterapkan dalam lingkugan rumah tangga sampai dengan kebernegaraan.

 

C. EVALUASI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT 

Jika ditinjau dari perspektif filsafat, evaluasi pendidikan dapat dilihat dari aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hal ini dikuatkan oleh Marsigit (Marsigit 2013) dalam filsafat ada tiga pilar utama yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi berfokus pada sifat dan struktur hal-hal itu sendiri, terlepas dari pertimbangan lebih lanjut, dan bahkan terlepas dari keberadaan aktualnya, dengan kata lain meskipun tidak memiliki keberadaan yang sebenarnya, sifat dan struktur mereka dapat dijelaskan (Guarino, Oberle, and Staab 2014). Ontologi merupakan cabang filsafat. Ontologi adalah ilmu tentang apa adanya, tentang jenis dan struktur objek, sifat, peristiwa, proses, dan hubungan di setiap area realitas (Smith 2003). Secara ontologis bahwa evaluasi pendidikan bisa membantu guru maupun stake holder dalam mencapai mutu Pendidikan yang lebih baik karena dari awal sudah dipertimbangkan tujuan yang jelas.

Sementara itu epistimologi adalah hubungan antara pikiran dan kenyataan (Sheffield 2021). Teori pengetahuan, atau, seperti yang kadang-kadang disebut, epistemologi, adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki sifat, ruang lingkup, dan kualitas pengetahuan manusia (Stewart, Blocker, and Petrik 2013). Epistimologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang sumber pengetahuan. Tujuan dari epistimologi bukanlah “apakah saya bisa tau?” tetapi “bagaimana agar saya bisa tahu?” (hal-hal apa yang harus saya lakukan, syarat apa saja, dsb). Epistemologis memberikan landasan untuk membahas bagaimana ilmu pengetahuan mempertanyakan dalam upaya mewujudkan kegiatan ilmiah. Di sini perlu dijelaskan langkah-langkah, metode ilmiah dan fasilitas yang terkait dengan tujuan dan indikator kegiatan ilmiah yang sedang berlangsung.

Disisi lain aksiologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut. Jadi hakikat yang ingin dicapai aksiologi adalah hakikat manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan. Objek kajian aksiologi adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral sehingga nilai kegunaan ilmu itu dapat dirasakan oleh masyarakat. Guru juga bisa mengetahui kesalahan atau kesulitan siswa maupun kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran dengan harapan dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan kedepannya.

 

D. IDEOLOGI DALAM PENDIDIKAN 

Setiap ilmu pengetahuan atau ideologi memiliki bahasanya sendiri dan berdiri pada dua sisi yaitu sisi optimis dan psimis, sisi pro maupun kontra (Tantray and Dar 2016). Ideologi adalah pandangan, ide, ata gagasan yang berdasarkan kepentingan golongan atau masyarakat tertentu. Terdapat beberapa ideologi pendidikan (Ernest 1991) yaitu:

  1. Ideologi Radikal

Ideologi pendidikan radikalisme lebih menekankan pada kebutuhan untuk meminimalkan dan atau menghapuskan batasan-batasan pada lembaga atau instansi atas perilaku personal, dan berusaha sejauh mungkin membebaskan masyarakat dari lembaga-lembaga. Ideologi pendidika  radikal dipelopori oleh Margaret anggota Thatcer dan ideologi ini menjadi mesik kebijakan di Inggris serta telah terbukti berdampak besar pada pengaturan pemerintah dan kebijakan.

            Implementasi ideologi radikal dalam evaluasi pendidikan dan pengajaran terletak pada bentuk asesmet yang digunakan yaitu assessment for learning yang dilaksanakan selama proses pembelajaran sebagai asesmen formatif dan assessment of learning yang dilaksanakan di akhir pembelajaran sebagai asesmen sumatif. Dalam ideologi ini belum menerapkan assessment as learning karena memang kepentingan personal dihilangkan.


 2.      Ideologi Konservatif

      Ideologi konservatif menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola berikut tradisi-tradisi yang sudah settle. Pada dasarnya mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu, disertai dengan rasa hormat yang mendalam terhadap hukum serta tatanan sosial yang baku, sebagai landasan bagi perubahan sosial yang konstruktif.  

        Impementasi ideologi konservatif merupakan salah satu pembelajaran behavourisme yang menerapkan pola-pola atau tradisi bahwa guru itu mengajar dan siswa mendengarkan. Belum ada proses dimana siswa dilibatkan penuh. Guru melakukan pembelajaran secara konvensional dengan metode ceramah dan siswa mendengarkan dengan penuh perhatian.

        3.    Ideologi Liberal

    Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa bagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Ideologi liberal sudah mulai masuk ke dalam pembelajaran konstruktivis. Siswa akan berada pada posisi mengkonstruk suatu pengetahuan berdasarkan triger atau fasilitas dari guru atau bisa dikatakan student center.

            Implementasi ideologi liberal akan menghasilkan pembelajaran kontekstual. Dalam ideologi liberal, siswa juga akan mulai dibentuk karakter baik dalam dirinya, pembelajaran dilakukan dengan eksplorasi dan bertujuan untuk identifikasi proses berfikir.


4.      4.    Ideologi Humanis

    Ideologi humanist menyatakan bahwa hakikat siswa dalam pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai karakter. Pendidikan diberikan agar siswa mengetahui bakat mereka sendiri dan mampu mengembangkannya. Masyarakat ini memandang ilmu pengetahuan sebagai struktur kebenaran. Pendidikan humanis adalah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia.

    Implementasi ideologi humanis dapat berupa penerapan pembelajaran tes sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Guru dapat memberikan asesmen awal yang berfungsi memetakan kemampuan siswa, kemudian memberikan treathment yang tepat sesuai dengan kemampuannya, tidak disama ratakan.


         5.    Ideologi Progresif

Tujuan dari ideologi progresiv dalam pendidikan ialah ingin merubah praktik pendidikan yang selama ini terkesan otiriter menjadi demokratis dan lebih menghargai potensi dan kemampuan anak, serta mendorong untuk dilaksanakannya pembelajaran yang lebih banyak melibatkan peserta didik.

Implementasi Ideologi progresif adalah menerapkan assessment as learning dimana siswa ikut aktif dalam proses penilaian. Siswa bisa diajak berdiskusi membuat kesepakatan tentang pembelajaran yang akan dilalui sehingga dapat konsisten dengan apa yang sudah disepakati. Dalam implementasi ideologi ini, siswa juga dapat diberikan asesmen awal agar guru memiliki peta siswa mana saja yang membutuhkan pendampingan lebih.

 

6        6.    Ideologi Sosialis

Ideologi sosialis menerapkan pembelajaran melalui aktivitas sosial. Siswa akan melakukan pembelajaran observasi yang melibatkan kapasitas mental, kognitif, emosional, dan keterampilan.   Siswa melakukan pekerjaan demi kepentingan kelompok dan akan berusaha memberikan kontribusi pada keberhasilan kelompok sehingga muncul kepedulian terhadap orang lain.

Implemetasi ideologi ini berciri pada penilaian yang tidak hanya berupa tes tetapi menggunakan kumpulan tugas maupun kinerja siswa yang dikumpulkan pada periode tertentu atau biasa disebut sebagai portofolio.

 

7.    7.    Ideologi Demokrasi

Ideologi ini juga menerapkan pembelajaran melalui kegiatan sosial. Ideologi demokrasi tidak lagi bagaimana melayani kelompok siswa tapi bagaimana guru sebagai fasilitator dapat melayani kebutuhan setiap siswa. Pembelajaran yang digunakan juga dapat bertujuan untuk bagaimana siswa dapat mengkonstruk apa yang terjadi pada dirinya sebagai suatu pembelajaran. Pembelajaran menggunakan material dari apa yang ada disekitar siswa dan dikenal oleh siswa.

Salah satu penerapan ideologi adalah penerapan etnomatematika. Dalam etnomatematika, siswa dapat mengkonstruk suatu pengetahuan dari apa yang ada disekita mereka. Misalnya siswa didaerah Muntilan dapat menerapkan stupa pada canti borobudur sebagai objek pembelajaran.


        Dari ketujuh ideologi yang telah dibahas, ideologi demokrasi demokrasi yang seharusnya menjadi fokus utama pendidikan di Indonesia. Bukan lagi melayani kebutuhan sekelompok siswa tapi bagaimana melayani kebutuhan siswa, karena setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Penerapan ideologi demokrasi yang bisa dilakukan adalah dengan pembelajaran etnomatematika yang memanfaatkan resource di sekitar sebagai bahan pembelajaran. Siswa di daerah keraton dapat memanfaatkan bentuk bangunan disekitar keraton sebagai materi dalam bangun datar. Siswa di lingkungan keraton yang mungkin jarang memanfaatkan sarana transportasi kapal agar apa yang dikonstruk siswa berasal dari kondisi yang ada disekitarnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Erdem, Cahit. 2019. “21st Century Skills and Education.” Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.

Ernest, Paul. 1991. The Philosophy of Mathematics Education. Bristol: The Falmer Press.

Fitzpatrick, Jody L., James R. Sanders, and Blaine R. Worthen. 2011. Program Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines. 4th ed. New Jersey: Pearson.

Guarino, Nicola, Daniel Oberle, and Steffen Staab. 2014. “What Is an Ontology ?” (May 2009):0–17. doi: 10.1007/978-3-540-92673-3.

Marsigit. 2013. “Pergulatan Memperebutkan Filsafat Dan Ideologi Dan Paradigma.”

Nurkholis. 2013. “Pendidikan Dalam Upaya Memajukan Teknologi.” 1(1):24–44.

Sheffield, The University of. 2021. “Epistemology.” Retrieved (https://www.sheffield.ac.uk/philosophy/research/themes/epistemology).

Smith, Barry. 2003. “Ontology.” Pp. 155–66 in Ontology. Oxford: Blackwell.

Stewart, David, H. Gene Blocker, and James Petrik. 2013. Fundamentals of Philosophy. 8th ed. New Jersey: Pearson.

Sugiarta, I. Made, Ida Bagus Putu Mardana, Agus Adiarta, and Wayan Artanayasa. 2019. “Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur).” Jurnal Filsafat Indonesia 2(3):124. doi: 10.23887/jfi.v2i3.22187.

Tantray, Mudasir Ahmad, and Ateequllah Dar. 2016. “Nature of Philosophy.” 4(12):339–42.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar