PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Disusun
oleh:
Furintasari
Setya Astuti
201701261031
Disusun
sebagai Tugas Akhir 1 Filsafat Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan
yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A
PENELITIAN
DAN EVALUASI PENDIDIKAN
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2021
PENERAPAN
FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Abstrak
Abad
ke-21 yang dikenal sebagai abad globalisasi. Abad ke-21 ditandai dengan
perubahan paradigma, termasuk di bidang pendidikan. Dalam menerima segala
bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan
pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi. Perubahan-perubahan
tersebut tentu tidak terlepas dari evaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah
memberikan penilaian, dan informasi yang akurat, penting, layak, dan dapat
dipertanggungjawabkan dalam rangka pengambilan keputusan. Evaluasi menjadi hal
yang sangat krusial yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dalam rangka
meningkatkan kualitas pendidikan. Dari pembelajaran, program, sampai dengan
kebijakan yang diimplementasikan harus dilakukan evaluasi agar mampu melihat
potret sebenarnya sehingga dapat diberikan rekomendasi-rekomendasi agar
implementasinya terus mengalami peningkatan kualitas yang baik. Kaitannya
dengan filsafat, bagian tertinggi dalam berfilsafat adalah spiritualitas.
Artinya bahwa kebermaknaan dari filsafat adalah spiritual. Dalam
pengembangan-pengembangan inovasi, harus diikuti dengan penetapan nilai-nilai
atau norma-norma spritualitas sebagai landasan maupun tujuan. Dalam filsafat ada tiga pilar utama yaitu ontologi,
epistimologi, dan aksiologi. Ontologi adalah ilmu tentang apa
adanya, tentang jenis dan struktur objek, sifat, peristiwa, proses, dan
hubungan di setiap area realitas. Epistimologi adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang sumber pengetahuan. Aksiologi merupakan ilmu yang
membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia
menggunakan ilmu tersebut. Kaitannya dengan ideologi, terdapat tujuh ideologi pendidikan yaitu: 1) ideologi
radikal, 2) ideologi konservatif, 3) ideologi liberal, 4) ideologi humanis, 5)
ideologi progresif, 6) ideologi sosialis, 7) ideologi demokrasi. Dari ketujuh
ideologi, yang tepat digunakan saat ini adalah ideologi demokrasi.
Kata
kunci: filsafat, ideologi,
evaluasi
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan kasih
sayang, serta petunjuk-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir
Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan yang berjudul “Penerapan
Filsafat dan Ideologi Dalam Pengembangan Evaluasi Pendidikan dan Pengajaran”.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada semua pihak, yang
telah memberikan bantuan berupa bimbingan, arahan, motivasi, dan doa selama
proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis
sampaikan kepada:
1.
Prof.
Dr. Marsigit, M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan.
2.
Teman-teman
mahasiswa S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan UNY Kelas A.
Teriring harapan dan doa semoga Allah SWT,
membalas amal kebaikan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A dan teman-teman S3 PEP
Kelas A. Tentunya masih banyak kekurangan yang ada dalam penulisan tugas akhir
ini, untuk itu penulis sangat berharap masukan dari pembaca dan semoga tugas
akhir berupa karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Aamiin.
Yogyakarta, Desember
2021
Furintasari Setya Astuti
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................................................... i
ABSTRAK
.................................................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR
................................................................................................................ iii
DAFTAR ISI
............................................................................................................................... iv
A.
PENDAHULUAN
.................................................................................................................. 1
B.
PENDIDIKAN DALAM
PERSPEKTIF SPIRITUAL .............................................. 2
C.
EVALUASI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF
FILSAFAT ........................... 4
D.
IDEOLOGI
DALAM PENDIDIKAN
1.
Ideologi
Radikal
.............................................................................................................. 5
2.
Ideologi
Konservatif
........................................................................................................ 5
3.
Ideologi
Liberal
............................................................................................................... 6
4.
Ideologi
Humanis ............................................................................................................ 6
5.
Ideologi
Progresif
............................................................................................................ 6
6.
Ideologi
Sosialis .............................................................................................................. 7
7.
Ideologi
Demokrasi
......................................................................................................... 7
DAFTAR
PUSTAKA ...................................................................................................... 8
PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Oleh
Furintasari
Setya Astuti
21701261031
A. PENDAHULUAN
Abad ke-21 yang dikenal
sebagai abad globalisasi. Abad ke-21 ditandai dengan perubahan paradigma,
termasuk di bidang pendidikan. Menurut Akgunduz & Ertepinar dalam Erdem (Erdem 2019) selama
berabad-abad, hanya sejumlah kecil orang yang perlu memiliki keterampilan
seperti kreativitas, berpikir kritis, dan problem
solving, namun di abad 21 setiap warna negara perlu memiliki keterampilan
ini. Dalam bidang pendidikan peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga
kependidikan, dan seluruh stake holder
pendidikan harus memiliki kompetensi-kompetensi tersebut agar dapat bertahan di
abad ke-21 yang penuh dengan disruption.
Melalui pendidikan seseorang
akan terbuka wawasannya, mampu meningkatkan potensi diri sehingga menciptakan
inovasi melalui perkembangan mindset yang lebih memerdekakan guru maupun siswa.
Perkembangan mindset ini terbukti dari perubahan kurikulum yang diharapkan
membawa dampak perubahan positif kepada guru maupun siswa.
Perkembangan-perkembangan model, strategi, metode pembelajaran, penilaian juga
menjadi bukti bahwa perubahan mindset akan menghasilkan inovasi dalam
pendidikan. Tetapi seiring berkembangnya inovasi, tidak sedikit pelaku
pendidikan yang siap. Bisa jadi hal ini dikarenakan mindset yang masih
“terjajah” sehingga belum mampu mengikuti perubahan. Dalam menerima segala
bentuk perkembangan, hal utama yang harus dilakukan adalah “membuka hati dan
pikiran” agar dapat mengikuti perkembangan yang terjadi.
Perubahan-perubahan
tersebut tentu tidak terlepas dari evaluasi. Tujuan dari evaluasi adalah
memberikan penilaian, dan informasi yang akurat, penting, layak, dan dapat
dipertanggungjawabkan dalam rangka pengambilan keputusan (Fitzpatrick, Sanders, and Worthen 2011). Evaluasi menjadi
hal yang sangat krusial yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan dalam
rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Dari pembelajaran, program, sampai
dengan kebijakan yang diimplementasikan harus dilakukan evaluasi agar mampu
melihat potret sebenarnya sehingga dapat diberikan rekomendasi-rekomendasi agar
implementasinya terus mengalami peningkatan kualitas yang baik.
Dalam rangkaian
pembelajaran, terdapat tiga langkah yang sangat penting yaitu perencanaan ,
pelaksanaan, dan pengembangan.
Ketiga hal ini
menjadi satu kesatuan yang terus saling berhubungan. Perencanaan yang tepat,
yang dapat mengakomodir kebutuhan siswa, akan mampu menerapkan proses
pembelajaran yang baik sehingga dapat memperoleh penilaian yang autentik dan
fair. Setelah perencanaan dan pelaksanaan berjalan lancar, evaluasi akan
dilakukan guna memperoleh pengembangan dari perencanaan maupun pelaksanaan
pembelajaran.
B. PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SPIRITUAL
Berfilsafat adalah
merdeka dalam memikirkan objek filsafat ataupun berpendapat, tetapi ternyata
dalam filsafat itu juga besifat terbatas. Berikut urutan terkait filsafat.
Dari piramida di atas
terlihat bahwa, bagian tertinggi dalam berfilsafat adalah spiritualitas.
Artinya bahwa kebermaknaan dari filsafat adalah spiritual. Dalam
pengembangan-pengembangan inovasi, harus diikuti dengan penetapan nilai-nilai
atau norma-norma spritualitas sebagai landasan maupun tujuan. Sementara itu
menurut Marsigit (Marsigit 2013), struktur dunia
adalah sebagai berikut:
Agar menjadi pedoman
dalam beribadah, termasuk belajar maupun mengajar sebaik-baiknya sekaligus
sebagai sumber karakter maupun panduan kebenaran atas dunia. (Marsigit 2013).
Menurut
Ki Hajar Dewantara (Sugiarta et al. 2019) pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan
merupakan suatu proses yang mencakup tiga dimensi, individu, masyarakat atau
komunitas nasional dari individu tersebut, dan seluruh kandungan realitas, baik
material maupun spiritual yang memainkan peranan dalam menentukan sifat, nasib,
bentuk manusia maupun masyarakat (Nurkholis 2013). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
pendidikan memiliki kaitan yang sangat erat dalam spiritualitas. Dalam mencapai
spiritualitas seseorang membutuhkan pendidikan. Pendidikan tidak hanya
diterapkan dalam lingkungan sekolah, tetapi dapat diterapkan dalam lingkugan
rumah tangga sampai dengan kebernegaraan.
C. EVALUASI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
Jika
ditinjau dari perspektif filsafat, evaluasi pendidikan dapat dilihat dari aspek
ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hal ini dikuatkan oleh Marsigit (Marsigit 2013) dalam filsafat ada tiga pilar utama yaitu ontologi,
epistimologi, dan aksiologi. Ontologi berfokus pada sifat dan
struktur hal-hal itu sendiri, terlepas dari pertimbangan lebih lanjut, dan
bahkan terlepas dari keberadaan aktualnya, dengan kata lain meskipun tidak
memiliki keberadaan yang sebenarnya, sifat dan struktur mereka dapat dijelaskan
(Guarino, Oberle, and Staab 2014). Ontologi merupakan
cabang filsafat. Ontologi adalah ilmu tentang apa adanya, tentang jenis dan
struktur objek, sifat, peristiwa, proses, dan hubungan di setiap area realitas (Smith 2003). Secara ontologis
bahwa evaluasi pendidikan bisa membantu guru maupun stake holder dalam mencapai mutu Pendidikan yang lebih baik karena
dari awal sudah dipertimbangkan tujuan yang jelas.
Sementara itu
epistimologi adalah hubungan antara pikiran dan kenyataan (Sheffield 2021). Teori
pengetahuan, atau, seperti yang kadang-kadang disebut, epistemologi, adalah
cabang dari filsafat yang menyelidiki sifat, ruang lingkup, dan kualitas
pengetahuan manusia (Stewart, Blocker, and Petrik 2013). Epistimologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang sumber pengetahuan. Tujuan dari
epistimologi bukanlah “apakah saya bisa tau?” tetapi “bagaimana agar saya bisa
tahu?” (hal-hal apa yang harus saya lakukan, syarat apa saja, dsb). Epistemologis
memberikan landasan untuk membahas bagaimana ilmu pengetahuan mempertanyakan
dalam upaya mewujudkan kegiatan ilmiah. Di sini perlu dijelaskan
langkah-langkah, metode ilmiah dan fasilitas yang terkait dengan tujuan dan
indikator kegiatan ilmiah yang sedang berlangsung.
Disisi lain aksiologi
merupakan ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri
dan bagaimana manusia menggunakan ilmu tersebut. Jadi hakikat yang ingin
dicapai aksiologi adalah hakikat manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan.
Objek kajian aksiologi adalah menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu karena
ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral sehingga nilai
kegunaan ilmu itu dapat dirasakan oleh masyarakat. Guru juga bisa mengetahui
kesalahan atau kesulitan siswa maupun kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran
dengan harapan dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan kedepannya.
D. IDEOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Setiap ilmu pengetahuan
atau ideologi memiliki bahasanya sendiri dan berdiri pada dua sisi yaitu sisi
optimis dan psimis, sisi pro maupun kontra (Tantray and Dar 2016). Ideologi adalah pandangan, ide, ata gagasan yang
berdasarkan kepentingan golongan atau masyarakat tertentu. Terdapat beberapa
ideologi pendidikan (Ernest 1991) yaitu:
- Ideologi Radikal
Ideologi pendidikan radikalisme lebih menekankan pada kebutuhan untuk meminimalkan dan atau
menghapuskan batasan-batasan pada lembaga atau instansi atas perilaku personal, dan berusaha sejauh mungkin
membebaskan masyarakat dari lembaga-lembaga. Ideologi pendidika radikal dipelopori oleh Margaret anggota
Thatcer dan ideologi ini menjadi mesik kebijakan di Inggris serta telah
terbukti berdampak besar pada pengaturan pemerintah dan kebijakan.
Implementasi
ideologi radikal dalam evaluasi pendidikan dan pengajaran terletak pada bentuk
asesmet yang digunakan yaitu assessment for learning yang dilaksanakan selama
proses pembelajaran sebagai asesmen formatif dan assessment of learning yang
dilaksanakan di akhir pembelajaran sebagai asesmen sumatif. Dalam ideologi ini
belum menerapkan assessment as learning karena memang kepentingan personal
dihilangkan.
Ideologi konservatif menganggap bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan struktur dan sistem sosial serta pola-pola berikut tradisi-tradisi yang sudah settle. Pada dasarnya mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu, disertai dengan rasa hormat yang mendalam terhadap hukum serta tatanan sosial yang baku, sebagai landasan bagi perubahan sosial yang konstruktif.
Impementasi ideologi konservatif merupakan salah satu pembelajaran behavourisme yang menerapkan pola-pola atau tradisi bahwa guru itu mengajar dan siswa mendengarkan. Belum ada proses dimana siswa dilibatkan penuh. Guru melakukan pembelajaran secara konvensional dengan metode ceramah dan siswa mendengarkan dengan penuh perhatian.
3. Ideologi Liberal
Ideologi pendidikan liberal bertujuan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara membelajarkan setiap siswa bagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Ideologi liberal sudah mulai masuk ke dalam pembelajaran konstruktivis. Siswa akan berada pada posisi mengkonstruk suatu pengetahuan berdasarkan triger atau fasilitas dari guru atau bisa dikatakan student center.
Implementasi ideologi liberal akan menghasilkan pembelajaran kontekstual. Dalam ideologi liberal, siswa juga akan mulai dibentuk karakter baik dalam dirinya, pembelajaran dilakukan dengan eksplorasi dan bertujuan untuk identifikasi proses berfikir.
4. 4. Ideologi Humanis
Ideologi humanist menyatakan bahwa hakikat siswa dalam pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai karakter. Pendidikan diberikan agar siswa mengetahui bakat mereka sendiri dan mampu mengembangkannya. Masyarakat ini memandang ilmu pengetahuan sebagai struktur kebenaran. Pendidikan humanis adalah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia.
Implementasi ideologi humanis dapat berupa penerapan pembelajaran tes sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Guru dapat memberikan asesmen awal yang berfungsi memetakan kemampuan siswa, kemudian memberikan treathment yang tepat sesuai dengan kemampuannya, tidak disama ratakan.
5. Ideologi Progresif
Tujuan dari ideologi
progresiv dalam pendidikan ialah ingin merubah praktik pendidikan yang selama
ini terkesan otiriter menjadi demokratis dan lebih menghargai potensi dan
kemampuan anak, serta mendorong untuk dilaksanakannya pembelajaran yang lebih
banyak melibatkan peserta didik.
Implementasi
Ideologi progresif adalah menerapkan assessment as learning dimana siswa ikut
aktif dalam proses penilaian. Siswa bisa diajak berdiskusi membuat kesepakatan
tentang pembelajaran yang akan dilalui sehingga dapat konsisten dengan apa yang
sudah disepakati. Dalam implementasi ideologi ini, siswa juga dapat diberikan
asesmen awal agar guru memiliki peta siswa mana saja yang membutuhkan
pendampingan lebih.
6 6. Ideologi Sosialis
Ideologi sosialis menerapkan pembelajaran
melalui aktivitas sosial. Siswa akan melakukan pembelajaran observasi yang melibatkan kapasitas mental,
kognitif, emosional, dan keterampilan. Siswa
melakukan pekerjaan demi kepentingan kelompok dan akan berusaha memberikan
kontribusi pada keberhasilan kelompok sehingga muncul kepedulian terhadap orang lain.
Implemetasi
ideologi ini berciri pada penilaian yang tidak hanya berupa tes tetapi
menggunakan kumpulan tugas maupun kinerja siswa yang dikumpulkan pada periode
tertentu atau biasa disebut sebagai portofolio.
7. 7. Ideologi Demokrasi
Ideologi ini juga menerapkan pembelajaran
melalui kegiatan sosial. Ideologi demokrasi tidak lagi bagaimana melayani
kelompok siswa tapi bagaimana guru sebagai fasilitator dapat melayani kebutuhan
setiap siswa. Pembelajaran yang digunakan juga dapat bertujuan untuk bagaimana
siswa dapat mengkonstruk apa yang terjadi pada dirinya sebagai suatu
pembelajaran. Pembelajaran menggunakan material dari apa yang ada disekitar
siswa dan dikenal oleh siswa.
Salah satu penerapan ideologi adalah penerapan
etnomatematika. Dalam etnomatematika, siswa dapat mengkonstruk suatu
pengetahuan dari apa yang ada disekita mereka. Misalnya siswa didaerah Muntilan
dapat menerapkan stupa pada canti borobudur sebagai objek pembelajaran.
Dari ketujuh
ideologi yang telah dibahas, ideologi demokrasi demokrasi yang seharusnya
menjadi fokus utama pendidikan di Indonesia. Bukan lagi melayani kebutuhan
sekelompok siswa tapi bagaimana melayani kebutuhan siswa, karena setiap siswa
memiliki karakter yang berbeda. Penerapan ideologi demokrasi yang bisa
dilakukan adalah dengan pembelajaran etnomatematika yang memanfaatkan resource
di sekitar sebagai bahan pembelajaran. Siswa di daerah keraton dapat
memanfaatkan bentuk bangunan disekitar keraton sebagai materi dalam bangun
datar. Siswa di lingkungan keraton yang mungkin jarang memanfaatkan sarana
transportasi kapal agar apa yang dikonstruk siswa berasal dari kondisi yang ada
disekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Erdem, Cahit. 2019. “21st Century Skills and Education.”
Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.
Ernest, Paul. 1991. The Philosophy of Mathematics
Education. Bristol: The Falmer Press.
Fitzpatrick, Jody L., James R. Sanders, and Blaine R.
Worthen. 2011. Program Evaluation: Alternative Approaches and Practical
Guidelines. 4th ed. New Jersey: Pearson.
Guarino, Nicola, Daniel Oberle, and Steffen Staab. 2014.
“What Is an Ontology ?” (May 2009):0–17. doi: 10.1007/978-3-540-92673-3.
Marsigit. 2013. “Pergulatan Memperebutkan Filsafat Dan
Ideologi Dan Paradigma.”
Nurkholis. 2013. “Pendidikan Dalam Upaya Memajukan
Teknologi.” 1(1):24–44.
Sheffield, The University of. 2021. “Epistemology.” Retrieved
(https://www.sheffield.ac.uk/philosophy/research/themes/epistemology).
Smith, Barry. 2003. “Ontology.” Pp. 155–66 in Ontology.
Oxford: Blackwell.
Stewart, David, H. Gene Blocker, and James Petrik. 2013. Fundamentals
of Philosophy. 8th ed. New Jersey: Pearson.
Sugiarta, I. Made, Ida Bagus Putu Mardana, Agus Adiarta, and
Wayan Artanayasa. 2019. “Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur).”
Jurnal Filsafat Indonesia 2(3):124. doi: 10.23887/jfi.v2i3.22187.
Tantray, Mudasir Ahmad, and Ateequllah Dar. 2016. “Nature of
Philosophy.” 4(12):339–42.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar